Visa mengembangkan eksperimen pembayaran berbasis stablecoin

visa mengembangkan eksperimen pembayaran menggunakan stablecoin untuk meningkatkan keamanan dan efisiensi transaksi digital.

Visa mengumumkan perluasan eksperimen pembayaran stablecoin melalui Visa Direct, dengan uji coba yang memungkinkan bisnis mengirim dana dalam bentuk aset digital yang dipatok ke dolar AS seperti USDC langsung ke dompet pengguna. Pengumuman ini disampaikan pada November 2025 di Web Summit, Lisbon, ketika perusahaan pembayaran global itu menargetkan kreator, pekerja lepas, dan pekerja gig yang selama ini kerap menghadapi keterlambatan pencairan, terutama dalam transaksi lintas negara. Langkah ini menandai fase baru setelah pilot sebelumnya yang berfokus pada prefunding, dan memperlihatkan bagaimana perusahaan kartu besar mulai mendorong penggunaan blockchain lebih dekat ke penerima akhir.

Di tengah persaingan infrastruktur pembayaran global, langkah Visa juga muncul saat minat terhadap stablecoin meningkat di kalangan pelaku fintech, perbankan, dan platform internet. Skema baru ini memungkinkan perusahaan tetap mendanai pembayaran dalam mata uang fiat, sementara penerima dapat memilih menerima dana dalam bentuk token digital yang nilainya relatif stabil. Bagi Visa, ini bukan sekadar eksperimen teknologi kripto, melainkan upaya mempercepat perpindahan uang dari hitungan hari menjadi menit, sekaligus memperluas akses bagi pengguna di negara dengan mata uang bergejolak atau layanan perbankan yang belum merata.

Visa mengembangkan eksperimen pembayaran stablecoin lewat Visa Direct

Dalam fase terbaru ini, Visa mengatakan bisnis di Amerika Serikat dapat mengirim pembayaran ke dompet stablecoin penerima, alih-alih ke kartu atau rekening bank. Dana yang digunakan dalam uji coba berasal dari stablecoin yang didukung dolar seperti USDC milik Circle. Sistem ini dirancang untuk memberi akses penghasilan yang lebih cepat kepada pekerja global yang selama ini bergantung pada transfer lintas negara dengan proses yang sering berlarut.

Pengumuman tersebut melanjutkan pilot yang diumumkan pada September 2025, ketika Visa Direct mulai menguji model prefunding berbasis stablecoin untuk kebutuhan treasury. Pada tahap itu, perusahaan dapat lebih dulu menempatkan dana dalam aset digital, lalu menggunakannya untuk mendukung penyelesaian pembayaran internasional. Fase November memperluas pendekatan tersebut ke sisi penerima, sehingga eksperimen tidak lagi berhenti pada efisiensi likuiditas internal, tetapi menyentuh langsung pengalaman pengguna akhir.

Bagi industri pembayaran digital, perubahan ini penting karena menghubungkan jaringan pembayaran mapan dengan infrastruktur publik berbasis blockchain. Visa menyatakan pencatatan transaksi dilakukan di blockchain publik, yang memberi jejak audit lebih terbuka dan memudahkan rekonsiliasi. Itu menjadi sinyal bahwa perusahaan besar tidak hanya mengamati perkembangan aset digital, tetapi mulai mengintegrasikannya ke sistem yang sudah digunakan luas.

visa mengembangkan eksperimen pembayaran menggunakan stablecoin untuk meningkatkan transaksi digital yang lebih cepat dan aman.

Pembayaran lintas negara menjadi fokus utama industri fintech dan blockchain

Target utama program ini adalah kreator, freelancer, dan pekerja gig yang sering menunggu lama untuk menerima bayaran dari platform internasional. Dalam model konvensional, pembayaran lintas negara melibatkan banyak lapisan, mulai dari bank perantara, konversi mata uang, hingga jam operasional lembaga keuangan. Dengan stablecoin, penyelesaian dapat berlangsung jauh lebih cepat karena dana berpindah lewat jaringan blockchain yang beroperasi terus-menerus.

Alasan inilah yang membuat stablecoin semakin diperhatikan di sektor pembayaran global. Perkembangannya juga terjadi di tengah pertumbuhan penggunaan token bernilai stabil dalam ekosistem aset digital yang lebih luas, termasuk layanan remitansi dan treasury korporasi. Gambaran besarnya terlihat dalam pembahasan soal volume transaksi stablecoin, yang menunjukkan peran aset ini makin besar dalam arsitektur pembayaran modern.

Di sisi lain, sektor ini tetap bergerak dalam pengawasan ketat regulator. Di Eropa, implementasi aturan baru terus membentuk arah pasar aset digital, termasuk emiten stablecoin dan penyedia layanan terkait, sebagaimana tercermin dalam pembahasan implementasi MiCA di Uni Eropa. Visa sendiri menyatakan peluncuran lebih luas direncanakan pada 2026, seiring kerangka regulasi yang makin jelas dan meningkatnya permintaan klien. Dengan kata lain, kecepatan inovasi kini sangat bergantung pada kepastian hukum.

Di sinilah taruhannya: bila model ini berjalan, platform global bisa membayar tenaga kerja internasional dengan lebih cepat dan lebih fleksibel. Itu akan mengubah cara uang bergerak di ekonomi internet.

Tantangan regulasi dan dampaknya bagi ekosistem pembayaran digital

Meski menjanjikan efisiensi, eksperimen ini tetap menghadapi sejumlah tantangan. Stablecoin bergantung pada kualitas cadangan aset, kepatuhan lintas yurisdiksi, serta kemampuan integrasi dengan sistem keuangan lama. Untuk perusahaan sebesar Visa, keberhasilan bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal apakah bank, regulator, dan mitra pembayaran dapat menerima model baru ini sebagai bagian dari infrastruktur arus utama.

Pertanyaan lain juga muncul: seberapa siap pasar global menerima pembayaran langsung ke dompet kripto? Di sejumlah negara, pengawasan terhadap aset digital justru diperketat, termasuk dalam isu pelaporan dan pemantauan transaksi. Tren itu terlihat dalam kebijakan seperti pengawasan transaksi kripto di India maupun langkah pemerintah lain yang terus menyesuaikan pendekatan mereka terhadap industri ini.

Visa tampaknya mengambil jalur bertahap. Alih-alih mengganti sistem lama sekaligus, perusahaan itu membangun jembatan antara jaringan pembayaran tradisional dan aset digital yang nilainya stabil. Strategi serupa juga terlihat di pasar yang lebih luas, ketika perusahaan pembayaran dan teknologi mencoba menghubungkan dompet digital, stablecoin, serta layanan konsumen sehari-hari, termasuk dalam integrasi pembayaran kripto oleh PayPal.

Jika uji coba ini meluas sesuai rencana, industri pembayaran dapat memasuki fase baru ketika uang fiat, token digital, dan jaringan kartu tidak lagi berdiri terpisah. Bagi Visa, eksperimen ini bukan sekadar proyek inovasi, melainkan ujian apakah stablecoin dapat menjadi lapisan praktis dalam sistem pembayaran global.