India mempertimbangkan permintaan pasokan energi dari Mauritius

india sedang mempertimbangkan permintaan pasokan energi dari mauritius untuk menjalin kerjasama energi yang lebih erat.

India sedang memfinalkan skema kerjasama energi dengan Mauritius setelah negara kepulauan itu meminta dukungan untuk memperkuat ketahanan energinya di tengah gejolak pasokan global. Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar saat berada di Port Louis pada 9 April, ketika konflik di Asia Barat dan gangguan di Selat Hormuz menekan arus minyak dan gas dunia. Bagi Mauritius, negara berkembang yang sangat bergantung pada impor, langkah ini penting untuk menjaga listrik dan bahan bakar tetap tersedia. Bagi India, pembicaraan ini juga menunjukkan bagaimana diplomasi energi menjadi bagian dari hubungan bilateral yang semakin luas.

India finalkan pasokan energi untuk Mauritius di tengah krisis Asia Barat

Dalam kunjungannya ke Mauritius untuk menghadiri Konferensi Samudra Hindia ke-9, Jaishankar menyatakan pemerintah India tengah menyelesaikan perjanjian antarpemerintah untuk memasok minyak dan gas ke Mauritius. Menurut dia, kesepakatan itu ditujukan untuk memperkuat keamanan energi Mauritius pada saat pasar global masih diguncang konflik di Asia Barat.

Pernyataan itu muncul ketika jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali menjadi perhatian. Jalur tersebut sangat vital karena sekitar seperlima minyak dunia melintas di sana. Tekanan terhadap pengiriman membuat harga minyak dunia melonjak dan memicu kekhawatiran di banyak negara pengimpor. Dalam konteks inilah permintaan dari Mauritius dinilai mendesak, karena negara tersebut memiliki ketergantungan besar pada impor energi.

Jaishankar juga menekankan bahwa kemitraan strategis menjadi semakin penting di sektor ini. Hubungan India dan Mauritius sendiri sudah ditingkatkan menjadi “Enhanced Strategic Partnership” sejak kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Narendra Modi ke Mauritius pada Maret tahun lalu. Sejak itu, agenda bersama tidak hanya menyentuh perdagangan dan pembangunan, tetapi juga sektor maritim, pendidikan, kesehatan, dan kini pasokan energi.

india sedang mempertimbangkan permintaan pasokan energi dari mauritius untuk memenuhi kebutuhan energi yang meningkat dan memperkuat kerja sama bilateral antara kedua negara.

Langkah India ini ikut menempatkan energi sebagai bagian dari diplomasi kawasan. Di saat banyak negara menghitung ulang kerentanannya terhadap pasokan Timur Tengah, skema antarpemerintah dinilai memberi kepastian lebih tinggi daripada pembelian pasar terbuka yang mudah terpengaruh volatilitas harga. Itu sebabnya pembicaraan ini diperhatikan bukan hanya di Port Louis, tetapi juga oleh pelaku sektor energi regional.

Mauritius mencari sumber energi yang lebih aman melalui kemitraan bilateral

Bagi Mauritius, dorongan untuk mencari dukungan dari India tidak lahir dalam ruang hampa. Negara itu menghadapi kenaikan kebutuhan listrik dan pada saat yang sama berupaya memperluas bauran energi yang lebih bersih. Karena itu, permohonan bantuan tidak hanya menyangkut pasokan minyak dan gas jangka pendek, tetapi juga penguatan sistem energi yang lebih tahan guncangan.

Jaishankar menyebut sebuah perusahaan sektor publik India sedang mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga surya terapung pertama di Mauritius. Ia juga mengingatkan bahwa kedua negara telah bekerja sama dalam proyek PLTS 8 MW di Henrietta. Kerja sama ini diperluas melalui keterlibatan di International Solar Alliance dan Global Biofuels Alliance, dua forum yang makin sering disebut dalam strategi transisi energi negara-negara berkembang.

Di sektor transportasi, India juga bersiap menyerahkan batch terakhir bus listrik ke Mauritius. Langkah itu dimaksudkan untuk memperkuat transportasi publik berkelanjutan sekaligus menekan emisi. Dengan kata lain, agenda yang dibicarakan tidak berhenti pada bahan bakar fosil, melainkan juga mencakup modernisasi sumber energi dan infrastruktur pendukung.

Arah seperti ini sejalan dengan kebutuhan banyak ekonomi pulau yang rentan terhadap gejolak harga minyak. Ketika biaya logistik melonjak, tagihan energi domestik ikut terdorong naik. Karena itu, kombinasi antara dukungan bahan bakar dan investasi energi bersih menjadi pendekatan yang lebih strategis. Gambaran serupa juga terlihat dalam pembahasan yang lebih luas mengenai guncangan energi di Asia, ketika negara-negara di kawasan dipaksa menyesuaikan kebijakan untuk menjaga stabilitas pasokan.

Di titik ini, hubungan India dan Mauritius menunjukkan pola yang kian jelas: pasokan jangka pendek dipadukan dengan pembangunan kapasitas jangka panjang. Bagi Port Louis, ini bukan semata urusan membeli energi, melainkan membangun perlindungan yang lebih kuat terhadap krisis berikutnya.

Tekanan impor energi mendorong India memperluas peran ekspor energi regional

Meski membantu Mauritius, India sendiri tidak kebal terhadap tekanan pasar energi. Data yang dikutip Reuters menunjukkan porsi minyak Timur Tengah dalam impor minyak mentah India naik menjadi 55% pada Januari, setara sekitar 2,74 juta barel per hari, level tertinggi sejak akhir 2022. Kenaikan itu terjadi ketika India mengurangi pembelian minyak dari Rusia.

Ketergantungan itu membuat India harus cermat menyeimbangkan kebutuhan domestik dan potensi ekspor energi ke mitra regional. Menteri Perminyakan Hardeep Singh Puri sebelumnya menyatakan India memiliki kapasitas persediaan minyak mentah dan bahan bakar olahan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 74 hari jika menghitung stok perusahaan dan cadangan strategis. Namun sejumlah sumber dari sektor pengilangan memberi gambaran yang lebih ketat, yakni stok yang tersedia saat ini cukup untuk sekitar 20 hingga 25 hari.

India juga merupakan importir LNG terbesar keempat di dunia, dengan sekitar dua pertiga pasokannya berasal dari Qatar, Uni Emirat Arab, dan Oman. Artinya, setiap gangguan berkepanjangan di Asia Barat akan langsung mempengaruhi biaya dan keamanan pasokan. Dalam kondisi seperti itu, keputusan membantu Mauritius lewat skema pemerintah-ke-pemerintah memperlihatkan bahwa New Delhi ingin tetap memainkan peran penyangga regional, meski ruang geraknya tetap ditentukan oleh kebutuhan dalam negeri.

Perkembangan ini berlangsung ketika pasar global terus mencermati pergerakan harga minyak dan respons negara-negara besar. Dinamika tersebut juga tercermin dalam laporan lain mengenai pergerakan Wall Street dan harga minyak serta upaya sejumlah kawasan memperkuat cadangan bahan bakar. Untuk India dan Mauritius, pesan utamanya sederhana: di tengah ketidakpastian global, keamanan energi kini semakin ditentukan oleh kecepatan membangun kemitraan yang konkret.