Sebanyak 69 persen pembeli B2B mengubah pilihan vendor setelah menerima rekomendasi AI, menurut temuan yang menegaskan perubahan besar dalam cara perusahaan mengambil keputusan di pasar B2B. Di Asia Tenggara, riset terbaru dari SleekFlow juga menunjukkan AI tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan bagian penting dari layanan pelanggan, personalisasi penawaran, hingga keputusan pembelian. Di Indonesia, kecenderungan itu terlihat jelas: konsumen dan bisnis sama-sama makin mengandalkan teknologi AI untuk respons cepat, layanan mandiri, dan analisis data yang lebih presisi.
Perubahan ini terjadi ketika perusahaan di kawasan berlomba memperkuat automasi bisnis di tengah tuntutan efisiensi dan pengalaman pelanggan yang lebih mulus. Whitepaper SleekFlow berjudul AI Transformation in SEA: Aligning Consumer Demands with Business Goals mencatat bahwa 67 persen dari 570 bisnis yang disurvei sudah memakai AI atau otomatisasi, sementara lebih dari 90 persen berencana memperluas penerapannya dalam dua tahun ke depan. Bagi sektor digital, angka-angka ini menunjukkan satu hal: pengaruh AI kini menjangkau bukan hanya konsumen akhir, tetapi juga proses pemilihan mitra dan vendor di ranah bisnis.
Pembeli B2B makin mengandalkan rekomendasi AI dalam memilih vendor
Temuan bahwa 69 persen pembeli B2B mengubah pilihan vendor setelah menerima masukan dari sistem berbasis AI menggambarkan pergeseran penting dalam proses pengadaan dan evaluasi mitra. Dalam praktiknya, AI membantu perusahaan menyaring opsi lebih cepat, membandingkan penawaran, dan membaca pola kebutuhan berdasarkan data historis maupun perilaku pengguna. Ini membuat perubahan vendor bukan lagi keputusan yang hanya bergantung pada relasi lama atau presentasi penjualan.
Di saat yang sama, riset SleekFlow memperlihatkan bagaimana ekspektasi terhadap layanan yang cepat dan relevan ikut mendorong perubahan itu. AI dinilai bernilai karena tersedia sepanjang waktu, memberi respons instan, dan memudahkan layanan mandiri seperti pelacakan pesanan, pencarian informasi produk, hingga pembayaran. Bagi pembeli korporat, logika yang sama berlaku: semakin cepat informasi disajikan, semakin besar peluang vendor dipilih atau ditinggalkan.
Perkembangan ini juga sejalan dengan tren yang lebih luas di industri digital. Pembahasan soal peran chatbot dan AI dalam transaksi antarbisnis semakin menonjol, termasuk dalam laporan mengenai penggunaan chatbot AI oleh pembeli B2B dan dinamika pergeseran AI di industri periklanan digital. Untuk pasar, pesannya jelas: vendor yang gagal menyesuaikan diri dengan sistem rekomendasi dan preferensi berbasis data berisiko makin cepat tersisih.

Survei SleekFlow menunjukkan AI mendorong keputusan pembelian yang lebih cepat
Whitepaper SleekFlow menyoroti bahwa di Indonesia, 75 persen konsumen cenderung memilih atau membeli dengan bantuan AI. Angka serupa tercatat di Malaysia sebesar 79 persen dan Singapura 70 persen. Walau data ini berfokus pada konsumen, implikasinya menjalar ke ranah bisnis: pola pengambilan keputusan kini makin dipengaruhi sistem yang bisa mempersonalisasi rekomendasi dan mempercepat respons.
Aspek kecepatan menjadi faktor yang menonjol. Sebanyak 88 persen responden menyatakan tidak bersedia menunggu lebih dari lima menit hanya untuk berbicara dengan agen manusia. Dalam konteks layanan digital, toleransi yang rendah terhadap jeda ini membuat AI kian relevan, baik di e-commerce maupun dalam alur penawaran B2B. Ketika sistem mampu memberi jawaban awal, merangkum kebutuhan, dan mengarahkan calon pembeli ke solusi yang paling sesuai, proses evaluasi vendor ikut memendek.
Personalisasi juga terbukti berpengaruh pada aksi pembelian. Di Indonesia, 86 persen responden mengaku lebih terdorong berbelanja jika promosi dirancang khusus; angkanya 80 persen di Malaysia dan 73 persen di Singapura. Relevansi inilah yang menjadi inti pengaruh AI. Bukan sekadar cepat, tetapi tepat sasaran. Sejumlah laporan lain tentang chatbot AI untuk solusi B2B dan uji format iklan di ChatGPT menunjukkan bahwa personalisasi berbasis data semakin dipandang sebagai aset bisnis, bukan lagi eksperimen.
Bisnis di Asia Tenggara memperluas automasi, tetapi peran manusia tetap bertahan
Dari 570 bisnis yang disurvei SleekFlow, 67 persen sudah menerapkan AI atau otomatisasi, dengan chatbot menjadi aplikasi yang paling luas digunakan, terutama di sektor ritel, jasa profesional, dan keuangan. Di Indonesia, 65,12 persen bisnis melaporkan penggunaan AI secara signifikan meningkatkan kepuasan pelanggan, terutama pada tahap awal perjalanan konsumen seperti awareness dan consideration. Ini menjelaskan mengapa banyak perusahaan kini menempatkan AI di garis depan interaksi digital.
Namun adopsi tidak berarti manusia sepenuhnya tersingkir. Sekitar 41 persen responden memperkirakan layanan pelanggan manusia belum akan tergantikan dalam waktu dekat. Sekitar 70 persen memilih AI untuk urusan sederhana, tetapi proporsi yang hampir sama masih mengandalkan manusia untuk persoalan emosional atau lebih kompleks. Dalam whitepaper itu, Laura, Customer Service Manager Atlas Beach Club dari Holywings Group, menggambarkan AI sebagai alat untuk merangkum konteks agar tidak ada detail yang terlewat, sementara interaksi langsung dengan tamu tetap membutuhkan sentuhan personal.
Tantangan terbesarnya masih soal biaya, keterbatasan sumber daya internal, dan ketidakpastian ROI. Meski begitu, lebih dari 90 persen bisnis menyatakan akan memperluas penggunaan AI dalam dua tahun mendatang, termasuk untuk agen AI, CRM berbasis AI, analitik cerdas, dan keterlibatan omnichannel. Pernyataan VP dan GM SleekFlow Asia Tenggara Asnawi Jufrie menegaskan arah tersebut: AI diposisikan untuk memperkuat kontribusi manusia, bukan menggantikannya. Di sinilah fase berikutnya pasar digital terbentuk, ketika analisis data, kecepatan respons, dan empati manusia harus berjalan bersamaan agar vendor tetap relevan.
Pergeseran ini menunjukkan bahwa di pasar B2B, AI kini ikut menentukan siapa yang dipertimbangkan, siapa yang dipilih, dan siapa yang ditinggalkan. Bagi perusahaan, tantangannya bukan lagi sekadar mengadopsi teknologi AI, melainkan memastikan sistem itu menghasilkan rekomendasi yang relevan tanpa menghilangkan kepercayaan yang selama ini dibangun lewat interaksi manusia.









