Laporan terbaru tentang industri mesin telusur menunjukkan satu paradoks yang makin jelas: dominasi Google masih sangat besar, tetapi laju pertumbuhan bisnis pencarian tidak lagi sekuat beberapa tahun lalu. Data yang dikutip Search Engine Land dan diberitakan 9to5Google pada Januari 2025 menunjukkan pangsa pasar Google turun di bawah 90% selama tiga bulan berturut-turut, sebuah penanda penting setelah hampir satu dekade bertahan di level tersebut. Pergeseran ini terjadi ketika alat berbasis AI seperti ChatGPT dan Perplexity mulai dipakai untuk menjawab pertanyaan secara langsung, sementara TikTok semakin sering digunakan kalangan muda untuk mencari rekomendasi tempat, produk, dan tren.
Tekanan terhadap bisnis inti Alphabet juga terlihat dari perkembangan lain pada Mei 2025, ketika kesaksian eksekutif Apple Eddy Cue dalam sidang antimonopoli Departemen Kehakiman AS terhadap Google memicu guncangan di bursa. Cue menyatakan volume pencarian di Safari menurun untuk pertama kalinya, seraya menunjuk peralihan pengguna ke layanan AI. Bagi industri digital, ini bukan sekadar soal pangsa pasar, melainkan perubahan perilaku yang bisa mengubah cara iklan, distribusi trafik, dan monetisasi informasi bekerja dalam beberapa tahun ke depan.
Laporan terbaru menyoroti dominasi pencarian Google yang mulai melambat
Selama bertahun-tahun, Google praktis menjadi pintu utama menuju internet. Nama mereknya bahkan identik dengan aktivitas mencari informasi. Namun laporan terbaru yang dikutip Search Engine Land menyebut pangsa pasar global Google turun di bawah 90% selama tiga bulan terakhir pada akhir 2024 hingga awal 2025, level yang jarang terlihat sejak lonjakan besar sekitar 2015.
Penurunan itu tidak berarti posisi Google runtuh. Bing, Yahoo, dan Yandex memang mencatat kenaikan, tetapi masih jauh di belakang. Meski begitu, perubahan kecil pada skala Google tetap penting karena menyentuh kebiasaan miliaran pengguna dan menjadi sinyal bahwa tren akses informasi mulai bergeser. Dalam ekonomi digital, penurunan tipis di level ini cukup untuk memicu analisis baru tentang masa depan pencarian.

Implikasinya juga terasa di bisnis periklanan. Pencarian selama ini menjadi kanal bernilai tinggi karena menangkap niat pengguna saat mereka siap membeli, memesan, atau membandingkan layanan. Dinamika itu membantu menjelaskan mengapa pendapatan iklan pencarian di AS terus menjadi acuan penting bagi investor dan pelaku industri. Ketika pangsa pasar melemah, pertanyaan berikutnya bukan hanya siapa yang menang, tetapi seberapa cepat model lama kehilangan daya dorongnya.
AI dan TikTok mengubah tren pencarian di pasar digital
Faktor terbesar di balik perubahan ini datang dari layanan AI generatif. ChatGPT dari OpenAI dan Perplexity menawarkan jawaban langsung dalam format percakapan, sehingga pengguna tidak selalu perlu membuka deretan tautan biru seperti pada mesin telusur tradisional. Bagi banyak orang, terutama untuk pertanyaan ringkas atau riset awal, model ini terasa lebih cepat dan lebih praktis.
Di sisi lain, TikTok memperkuat perubahan perilaku, khususnya di kalangan Generasi Z. Analis internet Bernstein Research, Mark Shmulik, menilai kelompok usia ini semakin sering memakai TikTok untuk mencari rekomendasi hotel, restoran, atau destinasi, alih-alih memulai dari Google. Sejak awal 2024, TikTok bahkan mulai mengintegrasikan tautan ke Google Search, langkah yang menunjukkan bahwa batas antara media sosial dan mesin pencari kian tipis.
Pergeseran ini ikut memengaruhi peta iklan digital. Ketika pencarian tidak lagi hanya berlangsung di browser, belanja iklan pun tersebar ke platform sosial, video, dan layanan berbasis AI. Gambaran lebih luas soal distribusi belanja itu terlihat dalam pergeseran peran media sosial dalam iklan digital dan tekanan yang muncul pada kanal lama. Dengan kata lain, persaingan kini bukan semata antarmesin pencari, melainkan antarformat penemuan informasi.
Perubahan kebiasaan ini penting karena perilaku pengguna biasanya bergerak lebih cepat daripada model bisnis perusahaan besar. Begitu publik menemukan cara baru yang lebih efisien, ekosistem iklan dan trafik akan menyesuaikan diri. Itu sebabnya penurunan kecil pada pangsa Google dibaca sebagai sinyal struktural, bukan sekadar fluktuasi bulanan.
Kesaksian Apple dan tekanan pasar memperbesar analisis terhadap Alphabet
Titik balik lain datang pada 7 Mei 2025. Saham Alphabet turun lebih dari 7% setelah Bloomberg melaporkan kesaksian Eddy Cue, wakil presiden senior layanan Apple, dalam sidang antimonopoli AS terhadap Google. Dalam persidangan itu, Cue menyebut volume pencarian melalui Safari menurun untuk pertama kalinya, dan ia mengaitkannya dengan migrasi pengguna ke alat AI seperti ChatGPT dan Perplexity.
Pernyataan tersebut langsung menyentuh jantung bisnis Alphabet. Pada 2024, segmen pencarian menghasilkan sekitar 198 miliar dolar AS, setara lebih dari 57% total pendapatan perusahaan. Model itu selama ini bertumpu pada hasil bersponsor dan klik iklan. Masalahnya, layanan AI cenderung memberi jawaban langsung, sehingga ruang untuk menampilkan iklan atau mendorong klik menjadi lebih terbatas. Inilah alasan mengapa banyak investor menilai bisnis pencarian Google sedang kehilangan momentum, meski belum memasuki fase penurunan tajam.
Google memang sudah merespons lewat AI Overviews, Circle to Search, dan AI Mode, tetapi pasar masih menunggu bukti apakah fitur-fitur itu dapat menandingi kekuatan monetisasi model lama. Di saat yang sama, Apple disebut tetap menginginkan Google sebagai default di Safari, namun juga telah berdiskusi dengan Perplexity. Kombinasi pengawasan hukum, tekanan teknologi, dan perubahan pengguna membuat posisi yang dulu terlihat tak tergoyahkan kini tampak lebih rapuh.
Dari sini, perhatian industri tertuju pada kemampuan Alphabet menjaga keseimbangan antara inovasi dan perlindungan bisnis iklan utamanya. Bagi sektor digital yang lebih luas, ini menjadi ujian apakah pertumbuhan iklan pencarian yang turun hanya fase penyesuaian, atau awal dari pergeseran yang lebih mendasar dalam cara informasi ditemukan dan dimonetisasi di internet.









