Google menangguhkan 24,9 juta akun pengiklan sepanjang 2025

google menangguhkan 24,9 juta akun pengiklan sepanjang 2025 untuk menjaga keamanan dan kualitas iklan. pelajari lebih lanjut tentang langkah-langkah perlindungan terbaru dari google.

Google melaporkan telah memblokir atau menghapus 8,3 miliar iklan dan menangguhkan 24,9 juta akun pengiklan secara global sepanjang 2025. Data itu dipublikasikan melalui Ads Safety Report 2025 dan menunjukkan bagaimana perusahaan semakin mengandalkan model AI Gemini untuk memperkuat keamanan iklan di tengah lonjakan modus penipuan digital. Dalam laporan yang dirilis pada April 2026 itu, Google juga menyebut 602 juta iklan serta 4 juta akun terkait praktik scam telah ditindak, sementara di Indonesia tercatat 191,9 juta iklan dihapus dan sekitar 385 ribu akun pengiklan dikenai sanksi.

Angka tersebut memberi gambaran tentang tekanan yang kini dihadapi ekosistem pengiklanan online. Di satu sisi, jaringan iklan tetap menjadi kanal utama bagi bisnis untuk menjangkau konsumen. Di sisi lain, ruang yang sama terus dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk menyebarkan malware, mencuri kredensial, hingga menguras dompet kripto melalui situs tiruan. Google menilai pertarungan ini makin kompleks karena pelaku kini memakai AI generatif untuk membuat kampanye penipuan dalam skala besar, mendorong perusahaan mempercepat otomasi penegakan kebijakan di berbagai platform digital.

Google menangguhkan 24,9 juta akun pengiklan dalam laporan keamanan iklan 2025

Dalam laporan terbarunya, Google menyatakan sistem penegakan berbasis AI kini menjadi tulang punggung untuk mendeteksi materi promosi berbahaya sebelum tayang. Perusahaan menyebut lebih dari 99 persen iklan berbahaya dapat dicegah sebelum menjangkau pengguna, sebuah klaim yang dikaitkan dengan integrasi Gemini dalam proses peninjauan iklan.

Skala tindakannya sangat besar. Sepanjang 2025, perusahaan melakukan pemblokiran atau penghapusan terhadap 8,3 miliar iklan dan menjalankan penangguhan akun terhadap 24,9 juta pelaku periklanan. Di antara total itu, 602 juta iklan dan 4 juta akun pengiklan dihubungkan dengan operasi penipuan. Bagi industri, data ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan lagi sekadar moderasi konten, melainkan perlombaan teknologi antara sistem deteksi dan metode pengelabuan yang terus berubah.

Keerat Sharma, VP & General Manager Ads Privacy and Safety Google, mengatakan perusahaan memanfaatkan Gemini untuk mendeteksi iklan scam secara real-time. Menurutnya, sebagian besar Responsive Search Ads yang dibuat di Google Ads pada akhir tahun lalu sudah bisa ditinjau hampir seketika, dan konten berbahaya diblokir sejak tahap pengajuan. Arah kebijakan ini penting karena pengawasan semakin dipindahkan ke fase awal, bukan setelah iklan telanjur tayang.

google menangguhkan 24,9 juta akun pengiklan sepanjang 2025 untuk menjaga kualitas iklan dan mencegah pelanggaran kebijakan yang merugikan pengguna dan pengiklan.

Gemini dipakai Google untuk melawan scam dan pelanggaran kebijakan iklan

Masalah yang dihadapi bukan baru, tetapi taktiknya makin canggih. Malvertising sudah lama menjadi ancaman di jaringan iklan, terutama ketika pelaku membeli slot promosi lalu menyamar sebagai merek sah. Modusnya beragam: mengarahkan pengguna ke halaman phishing, menawarkan unduhan perangkat lunak yang sudah disusupi trojan, atau menampilkan situs yang meniru layanan kripto untuk menguras aset korban.

Teknik yang kerap dipakai meliputi cloaking dan pengalihan URL. Dengan cara itu, iklan dapat terlihat aman saat diperiksa, tetapi mengantar pengguna ke halaman berbeda setelah diklik. Dalam beberapa kampanye yang terdeteksi, penipu membuat halaman login palsu untuk mencuri akun Google Ads, menyebarkan perangkat lunak berbahaya melalui nama aplikasi populer seperti Google Authenticator dan Homebrew, hingga memancing korban ke platform kripto tiruan.

Di titik inilah Gemini disebut memainkan peran penting. Google menjelaskan bahwa model tersebut tidak hanya membaca kata kunci atau elemen visual, tetapi juga menganalisis ratusan miliar sinyal, termasuk usia akun, riwayat perilaku, pola kampanye, dan maksud dari sebuah iklan. Pendekatan ini ditujukan untuk membedakan promosi yang sah dari jebakan digital yang dirancang agar tampak meyakinkan. Hasil akhirnya bukan sekadar lebih cepat, melainkan juga lebih presisi dalam menindak pelanggaran kebijakan.

Google juga menyatakan bahwa penggunaan AI membantu timnya memproses laporan pengguna jauh lebih efisien. Menurut Sharma, kemampuan ini membuat perusahaan dapat mengambil tindakan terhadap laporan pengguna empat kali lebih banyak dibanding tahun sebelumnya. Bagi industri platform digital, ini menunjukkan bahwa moderasi iklan kini semakin bergantung pada kombinasi verifikasi pengiklan dan analisis perilaku otomatis.

Indonesia dan Amerika Serikat menunjukkan skala penegakan di pasar iklan digital

Rincian per negara memberi konteks tambahan atas besarnya operasi tersebut. Di Amerika Serikat, Google menghapus sekitar 1,7 miliar iklan dan melakukan penangguhan akun terhadap 3,3 juta akun pengiklan sepanjang 2025. Dua kategori pelanggaran yang paling dominan adalah penyalahgunaan jaringan iklan dan representasi yang keliru, dua masalah yang kerap muncul dalam skema penipuan finansial maupun promosi menyesatkan.

Di Indonesia, perusahaan melaporkan telah menindak 191,9 juta iklan dan 385 ribu akun pengiklan. Angka ini menegaskan bahwa pasar iklan digital nasional juga menghadapi tekanan yang sama: pertumbuhan cepat, tetapi dibarengi upaya eksploitasi oleh aktor jahat. Bagi pengiklan yang sah, situasinya menuntut proses verifikasi yang lebih ketat, namun bagi pengguna, langkah itu menjadi bagian penting dari perlindungan sehari-hari saat berinteraksi dengan iklan di internet.

Google mengklaim peningkatan akurasi modelnya turut menurunkan false positives hingga 80 persen, sehingga bisnis yang sah tidak terlalu sering terkena sanksi keliru. Dampaknya penting bagi ekosistem pengiklanan: penegakan yang lebih agresif hanya bisa diterima pasar jika tidak menghambat pengiklan kredibel. Dengan rencana memperluas penggunaan Gemini ke lebih banyak format iklan, arah kebijakan Google kini tampak jelas, yaitu memindahkan perang melawan scam ke tahap pengajuan sebelum iklan sempat muncul di layar pengguna.