Wall Street menutup perdagangan Jumat (17/4) di level tertinggi baru setelah harga minyak jatuh tajam menyusul pembukaan kembali Selat Hormuz untuk kapal komersial. Perkembangan ini langsung mengubah sentimen pasar saham Amerika Serikat, meredakan kekhawatiran inflasi, dan memberi napas baru bagi ekonomi global yang sebelumnya dibayangi gangguan perdagangan minyak. Di tengah sinyal diplomatik antara Washington dan Teheran, investor kembali masuk ke aset berisiko, sementara saham sektor energi justru tertekan.
Wall Street cetak rekor setelah Selat Hormuz dibuka kembali
Indeks-indeks utama di Wall Street menguat signifikan pada akhir pekan, dipimpin oleh lonjakan Nasdaq Composite dan S&P 500 yang sama-sama mencatat rekor penutupan untuk hari ketiga berturut-turut. Nasdaq naik 365,78 poin atau 1,52 persen ke 24.468,48, memperpanjang reli menjadi 13 sesi beruntun, laju terpanjang sejak 1992. S&P 500 bertambah 84,78 poin atau 1,20 persen ke 7.126,06, sedangkan Dow Jones Industrial Average naik 868,71 poin atau 1,79 persen ke 49.447,43, level penutupan tertinggi sejak akhir Februari.
Pemicu utamanya datang dari pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi di platform X yang menyebut jalur pelayaran di Selat Hormuz telah terbuka penuh untuk seluruh kapal komersial selama masa gencatan senjata. Jalur ini memegang posisi strategis karena dilalui sekitar seperlima distribusi minyak mentah dunia. Ketika hambatan logistik di kawasan itu mereda, pasar segera membaca peluang berkurangnya tekanan biaya energi dan membaiknya prospek pertumbuhan.
Sentimen itu diperkuat oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan pembicaraan antara Washington dan Teheran dapat berlangsung pada akhir pekan. Ia juga menyebut peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik dengan Iran semakin terbuka. Bagi investor, kombinasi antara diplomasi dan normalisasi jalur pelayaran cukup untuk mendorong arus investasi kembali ke ekuitas.

Secara mingguan, penguatan itu juga terlihat luas. S&P 500 naik 4,53 persen, Nasdaq melonjak 6,84 persen, dan Dow bertambah 3,20 persen. Russell 2000 yang berisi saham berkapitalisasi kecil ikut melesat 2,10 persen dan menembus rekor penutupan baru, menandakan reli tidak hanya ditopang saham-saham teknologi besar.
Harga minyak turun tajam dan tekanan inflasi mereda
Reaksi paling cepat terlihat di pasar energi. Harga minyak mentah AS turun lebih dari 11 persen setelah kabar pembukaan jalur pelayaran itu muncul, sementara Brent dan WTI sama-sama bergerak ke bawah level 90 dolar AS per barel. Penurunan ini menandai pembalikan tajam setelah lonjakan sebelumnya yang dipicu kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Teluk.
Turunnya biaya energi segera dipandang sebagai kabar baik bagi ekonomi yang sensitif terhadap harga bahan bakar, mulai dari maskapai, operator pelayaran, hingga konsumsi rumah tangga. Bob Doll, CEO Crossmark, mengatakan kekhawatiran bahwa harga minyak akan memperlambat perekonomian dunia berkurang seiring kemajuan menuju kemungkinan kesepakatan akhir. Dalam konteks itu, pasar melihat penurunan harga komoditas bukan sekadar koreksi, melainkan sinyal bahwa risiko inflasi dapat lebih terkendali.
Sektor-sektor yang paling diuntungkan langsung mencerminkan perubahan tersebut. Di S&P 500, sektor konsumen non-primer naik hampir 2 persen, dipimpin Royal Caribbean yang melesat 7,3 persen dan Carnival Corporation yang naik 7 persen. Sektor industri juga menguat 1,8 persen, antara lain didorong kenaikan saham United Airlines sebesar 7 persen. Ketika bahan bakar lebih murah, margin perusahaan transportasi dan perjalanan biasanya membaik lebih cepat.
Pergerakan ini juga menjadi pengingat bahwa pasar global sangat peka terhadap jalur logistik utama. Dampaknya pada sentimen digital dan aset lain sering ikut terasa, seperti terlihat dalam pembahasan soal optimisme pasar terhadap aset berisiko ketika tekanan makro mulai mereda.
Meski begitu, pelaku pasar tetap mencermati seberapa cepat arus pengiriman benar-benar kembali normal. Sebab, dalam krisis energi, pernyataan politik sering kali lebih cepat bergerak daripada rantai pasok fisik. Itulah yang membuat pasar tetap antusias, tetapi belum sepenuhnya lepas dari kewaspadaan.
Sektor energi tertinggal saat saham kecil dan teknologi ikut menguat
Di tengah reli luas, sektor energi menjadi satu-satunya kelompok besar di S&P 500 yang ditutup di zona merah, turun 2,9 persen. Exxon Mobil melemah 3,6 persen dan Chevron turun 2,2 persen, sejalan dengan koreksi tajam harga minyak. Saat komoditas energi turun, prospek pendapatan perusahaan migas biasanya ikut disesuaikan oleh investor.
Di luar sektor tersebut, breadth pasar menunjukkan penguatan yang solid. Di New York Stock Exchange, saham yang naik mengungguli yang turun dengan rasio 4,03 banding 1, dengan 623 saham mencetak level tertinggi baru dan hanya 46 menyentuh titik terendah baru. Di Nasdaq, 3.685 saham naik dan 1.183 turun, atau rasio 3,11 banding 1. Pada S&P 500, tercatat 49 saham menembus tertinggi baru dalam 52 minggu dan tidak ada yang menyentuh terendah baru.
Namun tidak semua emiten mengikuti arus reli. Netflix anjlok 9,7 persen setelah memproyeksikan laba kuartal berjalan di bawah ekspektasi pasar dan mengumumkan pengunduran diri Reed Hastings dari posisi chairman setelah 29 tahun. Alcoa juga turun 6,8 persen karena laba dan pendapatan kuartal pertama berada di bawah perkiraan analis akibat kenaikan biaya dan permintaan yang melemah.
Total volume transaksi di bursa AS mencapai 20,29 miliar saham, di atas rata-rata 20 sesi terakhir yang sebesar 19,12 miliar saham. Aktivitas yang tinggi ini menunjukkan pasar tidak sekadar bereaksi spontan, tetapi sedang menilai ulang risiko geopolitik, inflasi, dan arah investasi global. Dalam lanskap yang lebih luas, perubahan sentimen seperti ini juga menjadi konteks penting bagi aset digital dan produk keuangan lain, termasuk ETF bitcoin spot BlackRock maupun dinamika pertumbuhan iklan pencarian yang sensitif terhadap siklus ekonomi dan belanja korporasi.
Untuk sementara, pasar membaca satu pesan yang jelas: ketika jalur energi utama kembali terbuka dan risiko pasokan mereda, Wall Street punya ruang untuk mencetak rekor baru. Pertanyaan berikutnya adalah apakah normalisasi di Selat Hormuz dapat bertahan cukup lama untuk menjaga reli ini tetap hidup.









