Iran menyatakan perbedaan besar dengan Amerika Serikat masih berlanjut terkait isu nuklir

Iran menyatakan perbedaan besar dengan Amerika Serikat masih berlanjut dalam negosiasi terbaru terkait isu nuklir, meski kedua pihak sama-sama memberi sinyal bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Dalam perkembangan beberapa hari terakhir, pembicaraan yang dikaitkan dengan pertemuan di Islamabad berakhir tanpa terobosan, sementara Washington tetap mempertahankan tekanan lewat sanksi dan langkah militer di sekitar Selat Hormuz. Situasi ini menempatkan kesepakatan nuklir kembali di pusat perhatian, bukan hanya bagi Teheran dan Washington, tetapi juga bagi pasar energi, sekutu regional, dan agenda kebijakan luar negeri negara-negara Barat.

Kebuntuan itu muncul ketika kawasan masih dibayangi konflik yang lebih luas, dari ketegangan maritim di jalur minyak terpenting dunia hingga serangan lintas perbatasan yang melibatkan aktor-aktor dekat Iran. Bagi pelaku pasar dan pemerintah di berbagai negara, persoalannya kini melampaui sengketa bilateral: apakah perbedaan soal pengayaan uranium, keamanan pelayaran, dan jaminan keamanan internasional bisa dijembatani sebelum dampaknya makin meluas ke ekonomi global.

Perbedaan Iran dan Amerika Serikat masih menahan kemajuan negosiasi isu nuklir

Pernyataan dari pihak Iran menegaskan bahwa pembicaraan terbaru belum menghasilkan titik temu pada beberapa persoalan mendasar. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan ada kesepahaman pada sejumlah hal, tetapi perbedaan visi tetap bertahan pada dua atau tiga isu kunci. Di pusat perselisihan itu adalah tuntutan Amerika Serikat soal penghentian penuh aktivitas nuklir Iran, termasuk persoalan yang menurut sejumlah laporan juga menyentuh penggunaan untuk kebutuhan nonmiliter.

Di sisi lain, sumber-sumber yang dikutip sejumlah media menyebut pembicaraan sebelumnya gagal setelah kedua pihak berselisih mengenai pengayaan uranium. Presiden AS Donald Trump lalu memberi sinyal bahwa putaran baru dapat digelar dalam waktu dekat dan menyebut kemungkinan pertemuan lanjutan dalam dua hari, dengan Pakistan disebut aktif mencoba mempertemukan kedua negara. Sinyal ini menunjukkan satu hal: kanal diplomatik masih dibuka, tetapi belum cukup kuat untuk mengubah posisi dasar masing-masing pihak.

Kebuntuan ini juga berkaitan dengan rapuhnya gencatan senjata dua pekan yang sebelumnya diumumkan. Tanpa komitmen tertulis, ruang untuk salah tafsir tetap besar. Itu sebabnya pembicaraan soal program atom Iran kini tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung langsung dengan kalkulasi keamanan kawasan yang lebih luas.

Selat Hormuz, sanksi AS, dan dampaknya pada keamanan internasional

Selain soal program nuklir, Selat Hormuz menjadi sumber sengketa yang sama pentingnya. Jalur laut sempit antara Iran dan Oman itu dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan segera memengaruhi harga energi dan persepsi risiko global. Setelah blokade laut diberlakukan, militer AS melaporkan telah menghentikan enam kapal yang mencoba keluar dari pelabuhan Iran dalam 24 jam pertama, meski data pelacakan maritim menunjukkan sebagian kapal lain masih bisa melintas.

Perselisihan di titik ini bukan hanya soal navigasi. Teheran disebut tidak ingin mengubah pengaturan yang ada tanpa kerangka kerja baru, sementara Washington menuntut jaminan cepat bagi kapal komersial di perairan internasional. Dengan kata lain, sengketa maritim telah berubah menjadi ujian langsung bagi keamanan internasional dan kredibilitas masing-masing pihak dalam menjaga arus energi global.

Pada saat yang sama, Departemen Keuangan AS menyatakan tidak akan memperpanjang pelonggaran terbatas terhadap penjualan minyak Iran yang sebelumnya diizinkan untuk meredam guncangan pasokan. Langkah itu menegaskan bahwa Washington masih menjalankan pendekatan tekanan maksimum, bahkan ketika membuka ruang pembicaraan. Kombinasi antara sanksi, kontrol maritim, dan negosiasi yang belum tuntas membuat krisis ini sulit dipisahkan dari strategi kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah.

Pasar merespons cepat. Harapan terhadap meredanya ketegangan sempat mendorong penguatan indeks saham AS, sementara harga Brent turun ke sekitar US$94,79 per barel dan WTI ke US$91,28. Namun pergerakan ini mencerminkan rapuhnya sentimen: sedikit kemajuan diplomatik bisa menenangkan pasar, sedangkan satu eskalasi di Hormuz dapat membalikkan arah dalam hitungan jam.

Konflik kawasan meluas saat kesepakatan nuklir belum terlihat

Kebuntuan antara Iran dan Amerika Serikat berlangsung ketika kawasan juga menghadapi tekanan dari front lain. Hizbullah meluncurkan serangan roket ke 13 kota di Israel utara, hanya sesaat setelah Israel dan Lebanon memulai pembicaraan di Washington yang dimediasi Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Peristiwa itu memperlihatkan jarak yang sering muncul antara meja diplomasi dan realitas lapangan: komunikasi formal bisa dimulai, tetapi kekerasan tetap berjalan.

Di saat bersamaan, Komite Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah mengonfirmasi pengiriman bantuan medis lintas perbatasan ke Iran, pengiriman pertama sejak konflik pecah. Ini menandakan bahwa dimensi kemanusiaan mulai mendapat perhatian lebih besar. Ketika bantuan darurat baru mulai masuk, risiko bagi warga sipil menjadi pengingat bahwa kegagalan diplomasi selalu membawa biaya yang nyata.

Dampak ekonominya juga sudah terlihat. IMF memangkas proyeksi pertumbuhan Timur Tengah dan Afrika Utara menjadi 1,1% dari sebelumnya 3,9%, dengan alasan gangguan pada ekspor minyak dan gas serta distribusi energi dari kawasan Teluk. Dari Kyiv, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bahkan mengeluhkan fokus Washington yang kini lebih banyak terserap pada krisis Iran, sebuah tanda bahwa konflik ini memengaruhi agenda global yang lebih luas.

Untuk saat ini, pesan dari Teheran tetap jelas: perbedaan mendasar dengan Amerika Serikat belum teratasi dalam pembahasan isu nuklir. Selama jurang itu belum dijembatani, peluang kesepakatan nuklir masih bergantung pada apakah diplomasi berikutnya mampu menghasilkan formula yang bisa diterima kedua pihak tanpa memicu eskalasi baru di kawasan.