Biaya per seribu yang masih tinggi dan transparansi rendah di ekosistem iklan berbasis kecerdasan buatan dinilai menjadi dua hambatan utama bagi adopsi iklan di ChatGPT. Di saat platform digital berlomba memperluas inventaris iklan digital, riset lintas negara terbaru justru menunjukkan bahwa persoalan keterbukaan data iklan masih jauh dari memadai di banyak platform besar. Dalam konteks itu, peluncuran format iklan baru di layanan percakapan AI menghadapi tantangan ganda: meyakinkan pengiklan soal efektivitas harga dan membangun kepercayaan pengguna di tengah tuntutan akuntabilitas yang makin tinggi.
CPM tinggi membuat model iklan ChatGPT belum mudah diadopsi
Dalam industri periklanan digital, CPM tinggi biasanya hanya dapat dipertahankan bila audiens dianggap bernilai, penempatan iklan jelas, dan hasil kampanye bisa diukur. Masalahnya, pasar kini bergerak di tengah tekanan efisiensi. Pengiklan tidak lagi sekadar membeli jangkauan, tetapi juga menuntut visibilitas soal siapa yang melihat iklan, bagaimana penargetannya dilakukan, dan apakah format tersebut benar-benar mendorong konversi.
Itu sebabnya setiap wacana monetisasi iklan di layanan percakapan seperti ChatGPT langsung dikaitkan dengan pertanyaan dasar: apakah harga tayang akan sepadan dengan hasilnya? Dalam kanal pencarian, media sosial, atau video, pengiklan sudah terbiasa membandingkan kinerja lintas platform iklan. Di antarmuka percakapan AI, standar itu belum sepenuhnya terbentuk. Bagi merek, biaya mahal tanpa metrik yang mudah diverifikasi berpotensi memperlambat pengujian anggaran skala besar.

Perdebatan ini juga muncul ketika industri membahas pergeseran strategi belanja iklan akibat AI generatif. Sejumlah pelaku pasar mulai menilai bahwa inventaris baru berbasis AI memang menjanjikan, tetapi keberhasilan komersialnya akan sangat bergantung pada transparansi pelaporan dan kontrol brand safety. Gambaran itu sejalan dengan dinamika yang dibahas dalam laporan IAB tentang pergeseran AI, yang menyoroti perubahan cara pemasar menilai kanal digital baru.
Riset NetLab dan Cambridge menyoroti transparansi rendah di platform digital
Hambatan terhadap iklan di layanan AI tidak muncul di ruang hampa. Studi Data Not Found yang dilakukan NetLab dari Federal University of Rio de Janeiro bersama peneliti Minderoo Centre for Technology and Democracy di University of Cambridge memperlihatkan masalah yang lebih luas. Penelitian ini menilai ketersediaan dan kualitas data konten buatan pengguna serta iklan di 15 platform digital besar yang beroperasi di Brasil, Uni Eropa, dan Inggris.
Temuannya tegas: sekitar separuh platform digital terbesar di dunia gagal memenuhi standar minimum transparansi iklan. Platform yang dianalisis mencakup TikTok, Instagram, Facebook, YouTube, Kwai, dan Telegram. Penilaian dilakukan lewat Social Media Transparency Index yang mengukur apakah data dapat diakses, dipahami, dan diverifikasi, termasuk informasi soal pendanaan iklan, nilai belanja, serta target audiens.
Hasil survei pada awal April menunjukkan pola yang konsisten: data tidak lengkap, pustaka iklan memiliki banyak celah, dan standar pelaporan antarlayanan sulit dibandingkan. Di Brasil, kondisinya disebut lebih terbatas ketimbang di Uni Eropa, yang telah memiliki kerangka regulasi lebih maju melalui Digital Services Act. Namun bahkan di kawasan yang aturannya lebih ketat, akses data bagi peneliti masih belum selalu berjalan mulus. Sejumlah permohonan akses disebut ditolak tanpa penjelasan yang memadai.
Bagi sektor digital, pesan dari studi ini cukup jelas. Jika platform mapan saja belum mampu menyediakan keterbukaan data iklan yang konsisten, maka pemain baru atau format baru seperti iklan dalam AI percakapan akan menghadapi sorotan yang lebih besar. Di sinilah isu kepercayaan pengguna bertemu dengan kehati-hatian pengiklan: tanpa data yang bisa diuji secara independen, klaim efektivitas sulit diterima begitu saja.
Kurangnya data terverifikasi menekan kepercayaan pengguna dan optimasi kampanye
Dampak praktis dari keterbatasan data terasa langsung pada optimasi kampanye. Pengiklan membutuhkan rincian mengenai jangkauan, frekuensi, kategori audiens, dan konteks penayangan untuk memutuskan apakah mereka akan menaikkan belanja atau justru melakukan pengurangan iklan. Tanpa itu, keputusan anggaran lebih mudah ditahan. Bagi penerbit maupun platform, situasi semacam ini dapat menekan laju pertumbuhan inventaris baru.
Masalah lain datang dari pengalaman pengguna. Dalam ekonomi perhatian, iklan yang terasa tidak relevan atau terlalu mengganggu bisa menurunkan loyalitas. Materi sumber yang menyertai data ini memang menyinggung bahwa penempatan iklan yang buruk, halaman yang terlalu padat, serta skrip iklan yang saling berbenturan dapat menekan CPM dan memperburuk pengalaman pengunjung. Namun untuk layanan AI percakapan, risikonya bertambah: pengguna datang untuk jawaban cepat dan konteks yang bersih, bukan antarmuka yang terasa seperti feed konvensional.
Karena itu, tantangan komersial ChatGPT bukan hanya soal memasang unit promosi, melainkan juga merancang sistem yang dianggap adil oleh pengiklan, peneliti, regulator, dan publik. Isu ini makin penting ketika perusahaan teknologi lain juga mengembangkan produk berbasis AI dan Web3 untuk monetisasi ekosistem digital, seperti terlihat dalam pembahasan soal proyek Web3 Yuga Labs yang menunjukkan bagaimana model bisnis digital kini makin saling terkait.
Pada akhirnya, peluang iklan di AI percakapan tetap terbuka, tetapi jalannya tidak akan cepat bila CPM tinggi tidak dibarengi bukti kinerja yang kuat dan keterbukaan data yang memadai. Untuk industri, isu terbesarnya bukan semata format baru, melainkan apakah ekosistem platform iklan mampu beranjak dari transparansi yang bersifat opsional menjadi kewajiban yang bisa diaudit secara independen.









