Argentina menghadapi tekanan baru menjelang musim tanam gandum ketika harga pupuk, terutama pupuk urea, melonjak tajam di tengah gangguan pasokan global dan gejolak energi. Kenaikan biaya input ini menambah beban biaya pertanian di salah satu eksportir gandum penting dunia, saat pasar internasional juga dibayangi krisis pupuk yang memukul Eropa dan sejumlah negara importir. Di tengah margin petani yang makin ketat, persoalannya tidak hanya soal ongkos tanam, tetapi juga menyangkut produksi gandum, daya saing ekspor, dan pada akhirnya ketahanan pangan regional.
Tekanan itu muncul ketika pasar urea global masih bergerak tinggi. Data perdagangan komoditas menunjukkan harga urea sempat berada di level US$552,50 per ton pada 12 Mei 2026, masih lebih tinggi dibandingkan setahun sebelumnya, meski terkoreksi dalam sebulan terakhir. Namun di Argentina, sorotan tertuju pada lonjakan lokal yang jauh lebih berat bagi petani. Sejumlah laporan pasar menyebut harga urea di negara itu sempat mendekati US$1.000 per ton, sebuah level yang langsung mengubah perhitungan ekonomi tanam untuk gandum dan jagung.
Harga pupuk urea menekan produksi gandum Argentina
Bagi petani Argentina, urea bukan sekadar input tambahan. Nitrogen dari pupuk ini menjadi penentu utama produktivitas, terutama untuk serealia. Bursa biji-bijian Rosario menempatkan urea sebagai komponen kunci untuk mendorong hasil panen, dan konsumsi nasionalnya diperkirakan mencapai sekitar 2,5 juta ton per tahun untuk berbagai komoditas, termasuk gandum dan jagung.
Ketika harga tinggi bertahan, dampaknya biasanya langsung terasa pada keputusan lapangan. Petani dapat menurunkan dosis pemupukan, menunda pembelian, atau bahkan mengalihkan sebagian areal ke tanaman yang memerlukan input lebih rendah. Di situlah muncul ancaman produksi: hasil panen berisiko turun, sementara kualitas biji juga bisa terpengaruh karena pemupukan nitrogen sangat berkaitan dengan kadar protein gandum.
Masalah ini juga menempatkan Argentina pada posisi yang kurang menguntungkan dibanding sejumlah pesaing. Data pembanding regional menunjukkan biaya input tertentu di negara itu tidak selalu lebih mahal, tetapi untuk energi dan logistik bebannya jauh lebih berat. Bahan bakar diesel, misalnya, disebut berada 21,4% di atas rata rata regional. Saat ongkos pupuk dan energi naik bersamaan, total biaya pertanian melonjak lebih cepat daripada kemampuan petani menyerapnya.

Kenaikan biaya input mengubah keputusan tanam
Efek paling nyata dari lonjakan ini adalah perubahan strategi usaha tani. Gandum tetap penting bagi rotasi lahan dan ekspor Argentina, tetapi saat marjin menipis, petani cenderung lebih berhati hati dalam membeli pupuk. Pengurangan dosis mungkin terlihat sebagai penghematan jangka pendek, tetapi konsekuensinya dapat muncul beberapa bulan kemudian dalam bentuk penurunan produktivitas.
Di pasar global, fenomena serupa sudah lebih dulu terlihat di Eropa. Laporan Platts, bagian dari S&P Global Commodity Insights, pada Maret menunjukkan kenaikan cepat harga gas alam di Belanda mendorong harga urea granular FCA Italia dari 530 euro per ton menjadi 700 euro per ton hanya dalam dua pekan. Pengalaman Eropa ini menjadi peringatan bagi sektor pertanian Argentina: ketika nitrogen menjadi terlalu mahal, keputusan tanam segera berubah.
Krisis pupuk global memperburuk tekanan di sektor pertanian
Yang terjadi di Argentina bukan kasus terpisah. Sejak 2025, indeks harga pupuk global naik sekitar 15%, dengan lonjakan paling tajam terjadi pada pupuk fosfat seperti TSP dan DAP. Pada saat yang sama, pasar nitrogen tetap rapuh karena beberapa faktor berjalan bersamaan: pembatasan ekspor dari China, kebijakan dagang terhadap produk Rusia dan Belarus, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memengaruhi jalur distribusi dan biaya energi.
Timur Tengah memegang peran besar dalam perdagangan pupuk nitrogen. Negara seperti Qatar, Iran, dan Arab Saudi termasuk pemasok utama dunia. Ketika kawasan ini terganggu, imbasnya cepat menjalar ke biaya produksi pupuk karena gas alam adalah bahan baku pokok untuk nitrogen. Dalam kondisi seperti ini, harga internasional sulit turun secara berkelanjutan, meski sempat terkoreksi dalam perdagangan harian.
Di Eropa, gejolak itu sudah memengaruhi pola tanam 2026/27. Proyeksi S&P Global CERA menunjukkan luas tanam jagung di Italia dapat turun menjadi sekitar 480.000 hektare dari 541.000 hektare pada musim sebelumnya. Penurunan juga diperkirakan terjadi di Polandia, Prancis, dan Spanyol. Untuk gandum, Rumania dan Bulgaria juga diproyeksikan mengalami penyusutan areal. Artinya, krisis pupuk kini bukan lagi soal harga semata, melainkan sudah menyentuh pasokan biji bijian.
Bagi Argentina, perkembangan ini punya dua sisi. Di satu pihak, berkurangnya produksi di kawasan lain dapat membuka peluang ekspor. Namun di pihak lain, jika ongkos input domestik ikut melambung, peluang itu sulit dimanfaatkan penuh. Pasar mungkin membutuhkan lebih banyak gandum, tetapi produksi tidak otomatis naik bila petani menghadapi biaya yang tidak masuk akal.
Dampak terhadap ketahanan pangan dan rantai pasok agribisnis
Tekanan pada produksi gandum Argentina tidak berhenti di tingkat petani. Negara ini adalah salah satu pemasok penting bagi pasar global, sehingga penurunan hasil atau mutu panen dapat merembet ke harga ekspor, industri penggilingan, hingga negara pembeli di Amerika Latin, Afrika Utara, dan Asia. Dalam konteks itu, persoalan pupuk berhubungan langsung dengan ketahanan pangan yang lebih luas.
Rantai dampaknya juga terlihat dari perubahan komposisi pakan ternak di Eropa, ketika gandum pakan mulai menggantikan jagung karena ekonomi tanaman berubah. Jika tren ini berlanjut sementara hasil gandum ikut terganggu, tekanan terhadap pasar serealia bisa makin besar. Harga FOB gandum protein 12,5% di kawasan Laut Hitam misalnya tercatat US$243 per ton pada 12 Maret, naik dari akhir Februari. Kenaikan bertahap seperti ini mencerminkan kekhawatiran pasokan yang terus berkembang.
Di Argentina sendiri, dinamika korporasi juga ikut diperhatikan pasar. Adecoagro telah menyepakati akuisisi 90% saham Profertil, produsen utama urea granular di Argentina, dalam transaksi sekitar US$600 juta. Langkah ini dinilai strategis karena memperkuat penguasaan rantai pasok input pertanian domestik. Bagi pasar, pertanyaannya jelas: apakah konsolidasi ini akan membantu stabilitas pasokan dan meredam gejolak harga, atau justru belum cukup cepat menjawab tekanan saat ini?
Jawabannya akan sangat menentukan beberapa bulan ke depan. Jika harga pupuk tetap tinggi dan petani terus menekan penggunaan nitrogen, ancaman produksi terhadap gandum Argentina dapat berubah dari risiko musiman menjadi persoalan struktural bagi sektor pertanian negara itu.









