Chainalysis merilis data terbaru terkait arus pergerakan kripto global

chainalysis merilis data terbaru yang mengungkap arus pergerakan kripto global, memberikan wawasan mendalam tentang tren dan aktivitas pasar cryptocurrency di seluruh dunia.

Chainalysis kembali merilis data terbaru mengenai arus pergerakan kripto global melalui laporan Global Crypto Adoption Index 2025 dan Geography of Cryptocurrency Report. Temuan utamanya menegaskan bahwa India menempati posisi pertama dalam adopsi kriptokurensi, diikuti Amerika Serikat, sementara Indonesia berada di peringkat ketujuh. Di saat yang sama, kawasan Asia Pasifik mencatat lonjakan aktivitas on-chain dari sekitar US$1,4 triliun menjadi US$2,36 triliun dalam 12 bulan, menandai percepatan besar dalam dinamika pasar kripto internasional.

Laporan ini penting bukan hanya bagi pelaku industri, tetapi juga regulator, bank, bursa, dan perusahaan yang mengandalkan analisis data blockchain untuk memantau transaksi kripto. Di balik peringkat negara dan angka volume, tersimpan perubahan yang lebih dalam: meningkatnya peran stablecoin, bertambahnya aktivitas institusional, serta kebutuhan pengawasan yang makin ketat di tengah risiko penipuan dan peretasan. Bagi Indonesia, posisi di papan atas memperlihatkan bahwa pasar domestik tetap menjadi salah satu yang paling aktif di dunia.

Chainalysis ungkap peta baru arus pergerakan kripto global

Dalam laporan terbarunya, Chainalysis menempatkan India sebagai negara dengan tingkat adopsi kripto tertinggi, disusul Amerika Serikat di posisi kedua. Pakistan, Vietnam, dan Brasil melengkapi lima besar, sementara Indonesia berada di urutan ketujuh, di belakang Nigeria namun masih di depan Ukraina dan Filipina. Peringkat ini menggambarkan kombinasi aktivitas ritel dan institusional yang kini menjadi ukuran utama dalam membaca perkembangan pasar kripto.

Perusahaan analisis data blockchain yang berdiri di New York pada 2014 itu selama beberapa tahun terakhir menjadi rujukan bagi regulator, aparat penegak hukum, bank, dan platform aset digital. Produk mereka digunakan untuk menelusuri aliran dana on-chain, memetakan hubungan antarwallet, dan menilai tingkat risiko alamat tertentu. Dalam konteks pasar yang semakin besar, fungsi semacam ini menjadi penting karena keputusan bisnis dan kepatuhan kini makin bergantung pada pembacaan data yang presisi.

Indonesia sendiri bukan pemain baru dalam lanskap ini. Pada periode laporan sebelumnya, negara ini sempat menempati posisi ketiga dalam indeks adopsi global, dengan nilai aset kripto yang diterima di kawasan Asia Tengah dan Selatan mencapai sekitar US$157,1 miliar. Dengan latar itu, posisi ketujuh pada edisi terbaru menunjukkan pasar domestik tetap solid, meski persaingan antarnegara juga semakin ketat.

chainalysis merilis data terbaru tentang arus pergerakan kripto global, memberikan wawasan mendalam tentang tren dan aktivitas pasar mata uang digital di seluruh dunia.

Asia Pasifik tumbuh paling cepat, stablecoin tetap mendominasi transaksi kripto

Salah satu temuan paling menonjol dalam laporan itu datang dari kawasan Asia Pasifik. Nilai aktivitas on-chain di wilayah ini naik sekitar 69% secara tahunan, dari sekitar US$1,4 triliun menjadi US$2,36 triliun. Jepang mencatat pertumbuhan tertinggi, lebih dari 120%, sementara Korea Selatan, India, dan Indonesia juga menunjukkan kenaikan yang kuat dari basis yang sudah besar.

Kenaikan tersebut tidak terjadi dalam ruang hampa. Di berbagai negara, kejelasan regulasi, penetrasi fintech, dan kebutuhan pembayaran lintas batas ikut memperkuat penggunaan aset digital. Dalam ekosistem ini, stablecoin tetap menjadi tulang punggung transaksi kripto global. Chainalysis mencatat USDT memproses lebih dari US$1 triliun per bulan pada periode Juni 2024 hingga Juni 2025, sedangkan USDC berada di kisaran US$1,24 triliun sampai US$3,29 triliun per bulan.

Dominasi stablecoin itu membantu menjelaskan mengapa arus likuiditas global bergerak lebih cepat dan lebih efisien. Di Eropa, implementasi MiCA bahkan ikut mendorong pertumbuhan EURC yang melonjak sangat tinggi dari basis rendah. Perubahan ini juga sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap produk investasi teregulasi, termasuk perkembangan seputar ETF Bitcoin spot BlackRock dan arus modal yang dibahas dalam laporan lain mengenai volume pasar kripto global. Arah besarnya jelas: likuiditas pasar kini semakin ditopang aset yang stabil dan jalur pembayaran yang lebih matang.

Di sisi lain, Bitcoin tetap menjadi pintu masuk utama ke ekosistem aset digital. Berdasarkan analisis pembelian fiat di bursa tersentralisasi, Bitcoin mencatat arus masuk sekitar US$1,2 triliun, sekitar 70% lebih tinggi dibanding Ethereum yang mencapai US$724 miliar. Data ini menunjukkan bahwa meski stablecoin dominan dalam perpindahan nilai, Bitcoin masih memegang posisi sentral dalam proses masuknya modal baru ke ekosistem.

Metodologi baru dan risiko kejahatan membentuk wajah pasar kripto

Pembaruan metodologi menjadi bagian penting dari laporan tahun ini. Chainalysis menghapus sub-indeks retail DeFi dan menambahkan dimensi aktivitas institusional untuk transfer di atas US$1 juta. Pergeseran ini mencerminkan kenyataan baru di industri: pasar tidak lagi hanya digerakkan oleh investor ritel, tetapi juga oleh dana institusi, kustodian, dan produk berbasis ETF yang masuk ke ruang aset digital.

Perubahan metodologi itu membantu menjelaskan mengapa Amerika Serikat tetap sangat kuat dalam peringkat global. Amerika Utara sendiri menyumbang sekitar 26% dari seluruh aktivitas kripto dunia, dengan total nilai sekitar US$2,3 triliun antara Juli 2024 hingga Juni 2025. Puncak bulanan tercatat pada Desember 2024, saat sentimen pasar menguat di tengah ekspektasi perubahan kebijakan yang lebih jelas dari regulator keuangan AS.

Namun pertumbuhan yang cepat juga diiringi risiko yang tidak kecil. Chainalysis memperkirakan pendapatan dari penipuan kripto pada 2024 mencapai sedikitnya US$9,9 miliar dan berpotensi naik sampai US$12,4 miliar. Sementara itu, kerugian akibat peretasan menyentuh sekitar US$2,2 miliar, dengan kompromi private key menjadi salah satu penyebab utama. Dalam situasi seperti ini, perangkat investigasi dan pemantauan menjadi semakin relevan, terutama ketika pelaku pasar harus menyaring alamat berisiko dan menelusuri asal-usul dana secara real time.

Bagi Indonesia, pesan dari laporan ini cukup jelas. Pasar lokal tetap berada dalam arus utama pertumbuhan global, tetapi peningkatan aktivitas harus diimbangi disiplin kepatuhan, penguatan pengawasan, dan literasi risiko yang lebih baik. Di tengah reli berbagai aset dan perhatian terhadap token tertentu, termasuk pergerakan yang tercermin dalam ulasan XRP yang menguat di pasar kripto, tantangan terbesar bukan hanya mengejar pertumbuhan, melainkan memastikan ekosistem berkembang dengan fondasi yang lebih aman dan transparan.

Dengan data terbaru ini, Chainalysis kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu rujukan utama dalam membaca arah industri aset digital. Dari lonjakan aktivitas Asia Pasifik hingga dominasi stablecoin dan meningkatnya peran institusi, laporan tersebut menunjukkan bahwa evolusi arus pergerakan kripto kini semakin terkait dengan regulasi, infrastruktur pembayaran, dan pengawasan yang berbasis data.