Volume transaksi Stablecoin terus menunjukkan peningkatan di sejumlah jaringan besar, menegaskan peran aset ini sebagai infrastruktur penting dalam ekonomi digital. Sepanjang 2024 hingga 2025, data dari Dune, Artemis, dan berbagai analitik on-chain memperlihatkan bahwa penggunaan stablecoin tidak lagi terbatas pada perdagangan kripto, melainkan juga merambah remitansi, penyelesaian institusional, dan keuangan terdesentralisasi. Di tengah perkembangan itu, Ethereum, Tron, Solana, dan Base muncul sebagai blockchain yang paling aktif menampung arus transaksi bernilai besar, sementara regulator di Amerika Serikat dan Eropa memperketat perhatian pada penerbit token berpatokan fiat ini.
Laporan gabungan Dune dan Artemis yang dirilis pada awal 2025 mencatat total pasokan stablecoin mencapai sekitar US$214 miliar, dengan total volume transaksi tahunan melampaui US$35 triliun untuk periode Februari 2024 hingga Februari 2025. Dalam periode yang sama, volume transfer bulanan naik dari sekitar US$1,9 triliun menjadi US$4,1 triliun, atau tumbuh 115% secara tahunan. Angka-angka ini menunjukkan bahwa instrumen dengan volatilitas rendah tersebut semakin dipakai sebagai sarana perpindahan nilai di internet, bukan sekadar tempat berlindung sementara dari gejolak pasar aset digital.
Peningkatan volume transaksi Stablecoin makin terlihat di jaringan utama
Pusat pertumbuhan pasar ini berada pada jaringan yang sudah memiliki likuiditas tinggi dan ekosistem aplikasi yang luas. Ethereum tetap memegang peran penting berkat dominasi aktivitas DeFi dan keberadaan penerbit besar seperti USDC, sedangkan Tron mempertahankan posisi kuat untuk transfer USDT berbiaya rendah. Solana dan Base juga semakin sering disebut dalam laporan industri karena sanggup menampung arus aktivitas tinggi dengan biaya yang relatif kecil.
Dalam analisis yang dipublikasikan CNBC Indonesia pada 3 Oktober 2025, volume transfer stablecoin on-chain disebut telah secara konsisten melampaui gabungan volume pembayaran Visa dan Mastercard. Perbandingan itu tidak sepenuhnya setara karena jenis penggunaan masing-masing jaringan berbeda, namun pesan utamanya jelas: aset digital berbasis stablecoin kini bergerak pada skala yang tidak bisa lagi dianggap niche. Di pasar global, Tether atau USDT masih mendominasi volume perdagangan, sementara USDC menempati posisi penting terutama untuk kebutuhan yang menuntut transparansi lebih besar.

Pola ini juga tercermin pada jaringan yang sedang bertumbuh. Aktivitas Solana, misalnya, ikut terdorong oleh kombinasi transaksi stablecoin, perdagangan token, dan geliat DeFi. Perkembangan tersebut dapat dilihat dalam laporan mengenai aktivitas jaringan Solana, yang menunjukkan bagaimana blockchain berkapasitas tinggi ikut memperluas distribusi volume di luar Ethereum dan Tron. Pergeseran ini menandakan pasar semakin terdiversifikasi, bukan hanya terkonsentrasi pada satu rantai saja.
Dorongan dari kripto, remitansi, dan keuangan terdesentralisasi
Apa yang mendorong lonjakan tersebut? Di bursa aset digital, stablecoin telah lama menjadi pasangan utama untuk jual beli berbagai token. Saat pelaku pasar berpindah dari Bitcoin, Ether, atau altcoin lain, mereka umumnya parkir di USDT atau USDC sebelum masuk ke posisi berikutnya. Mekanisme ini menciptakan arus volume yang sangat besar, bahkan ketika sentimen pasar sedang berubah cepat.
Di luar perdagangan, stablecoin juga menjadi tulang punggung keuangan terdesentralisasi. Protokol pinjam-meminjam, perdagangan terdesentralisasi, hingga layanan yield bergantung pada aset dengan nilai yang relatif stabil untuk menjamin efisiensi dan mengurangi risiko fluktuasi ekstrem. Karena memiliki volatilitas rendah dibandingkan aset kripto lain, stablecoin dipakai sebagai unit akun, jaminan, dan alat penyelesaian dalam banyak aplikasi blockchain.
Penggunaannya juga meluas pada transfer lintas negara. Dibanding saluran perbankan konvensional yang bisa memakan waktu dan biaya lebih tinggi, stablecoin menawarkan penyelesaian lebih cepat, terutama untuk transaksi bernilai besar. Itulah sebabnya volume tidak hanya datang dari pembayaran ritel, tetapi juga dari kebutuhan treasury perusahaan, perdagangan institusional, dan perpindahan likuiditas antarplatform. Di sinilah perbedaan mendasar dengan jaringan kartu pembayaran tradisional mulai terlihat.
Dalam konteks itu, jaringan seperti Solana dan Base mendapat perhatian lebih karena efisiensi biaya dan kecepatan proses. Keduanya kerap disebut dalam pembahasan industri mengenai ekspansi transaksi on-chain, terutama ketika aktivitas memecoin dan aplikasi DeFi ikut mengerek penggunaan stablecoin. Kombinasi antara skalabilitas teknis dan permintaan likuiditas menjadi faktor yang mempercepat pertumbuhan volume transaksi di beberapa blockchain sekaligus.
Persaingan jaringan dan pengawasan regulator semakin menentukan arah pasar
Meski pertumbuhan volume terlihat kuat, dinamika pasar stablecoin tetap sangat dipengaruhi oleh penerbit utama dan kebijakan regulator. Tether masih menjadi pemain dominan dari sisi penggunaan, terutama karena likuiditasnya sangat dalam di banyak bursa global. Sementara itu, USDC sering dipilih oleh institusi yang lebih menekankan aspek kepatuhan dan transparansi cadangan. Perbedaan posisi ini membuat pasar tidak hanya bersaing di level blockchain, tetapi juga di level penerbit token.
Di Amerika Serikat dan Eropa, pembahasan kerangka regulasi terus berkembang seiring besarnya peran stablecoin dalam sistem pembayaran digital. Fokus pengawasan biasanya tertuju pada kualitas aset cadangan, kemampuan penebusan, serta potensi risiko sistemik jika penerbit besar terganggu. Bagi industri, aturan yang lebih jelas bisa menjadi pisau bermata dua: di satu sisi menambah beban kepatuhan, di sisi lain memberi dasar hukum yang lebih kuat bagi adopsi lebih luas.
Visa sendiri dalam beberapa tahun terakhir telah menguji integrasi pembayaran berbasis stablecoin, sebuah sinyal bahwa pelaku lama tidak menutup mata terhadap perubahan ini. Ketika infrastruktur tradisional mulai beririsan dengan blockchain, persaingan bergeser dari sekadar soal siapa yang memproses transaksi terbanyak menjadi siapa yang mampu menyediakan jalur perpindahan nilai paling efisien, aman, dan sesuai aturan. Itu sebabnya pembacaan terhadap peningkatan volume hari ini tidak hanya berbicara soal pasar kripto, tetapi juga masa depan sistem pembayaran digital secara keseluruhan.
Bagi sektor digital, perkembangan ini menandai satu hal yang kian sulit dibantah: stablecoin telah tumbuh menjadi infrastruktur inti bagi ekonomi on-chain. Selama likuiditas tetap terjaga, penggunaan lintas jaringan terus meluas, dan regulator memberi kepastian yang memadai, peran stablecoin dalam arsitektur keuangan digital kemungkinan akan semakin besar dalam beberapa tahun ke depan.









