Menteri mendorong penguatan sains dan teknologi untuk mendukung ekonomi nasional

menteri mendorong penguatan sains dan teknologi sebagai kunci utama untuk mendukung pertumbuhan dan kemajuan ekonomi nasional indonesia.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menempatkan penguatan sains dan teknologi sebagai salah satu tumpuan kebijakan industri Indonesia, setelah gelaran Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia KSTI 2025 di Bandung dan pertemuan lanjutan Menteri Brian Yuliarto dengan Bank Indonesia Institute di Jakarta pada awal Maret. Dalam dua momentum itu, pemerintah menegaskan bahwa riset, hilirisasi, dan pengembangan talenta perlu dihubungkan lebih rapat dengan kebutuhan pasar agar memberi dukungan nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus menjawab tantangan komersialisasi hasil penelitian yang selama ini kerap terhenti di tahap awal.

Menteri dorong penguatan sains dan teknologi lewat KSTI 2025

KSTI 2025 berlangsung pada 7 hingga 9 Agustus 2025 di Sasana Budaya Ganesa, Bandung, sebagai agenda yang disiapkan Kemdiktisaintek untuk memperkuat fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Tema yang diusung, Sains dan Teknologi untuk Pertumbuhan dan Pemerataan Ekonomi, menunjukkan arah kebijakan yang ingin menempatkan riset dan inovasi sebagai mesin transformasi industri bernilai tambah tinggi.

Presiden Prabowo Subianto hadir sebagai pembicara utama. Dalam forum itu, target pertumbuhan ekonomi 8 persen dalam lima tahun ke depan kembali dikaitkan dengan strategi industrialisasi yang bertumpu pada hilirisasi, penguasaan teknologi, dan penguatan sumber daya manusia. Arah tersebut disebut sejalan dengan agenda pembangunan pemerintah, terutama pada penguatan SDM, pendidikan, sains, teknologi, dan industrialisasi domestik.

menteri mendorong penguatan sains dan teknologi sebagai kunci utama untuk mendukung pertumbuhan dan daya saing ekonomi nasional secara berkelanjutan.

Menteri Brian Yuliarto menekankan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk melakukan lompatan industri karena ditopang sumber daya alam strategis. Namun, peluang itu menurutnya hanya bisa diubah menjadi daya saing jika kapasitas teknologi, talenta, dan ekosistem riset dibangun secara konsisten. Di titik ini, forum seperti KSTI diposisikan bukan sekadar seremoni, melainkan ruang untuk menyatukan arah kebijakan negara, kekuatan ilmu pengetahuan, dan kebutuhan industri.

Delapan sektor strategis jadi fokus pengembangan

Dari konvensi tersebut, Kemdiktisaintek menargetkan lahirnya peta jalan riset dan pengembangan untuk delapan bidang prioritas. Delapan sektor itu mencakup energi, pertahanan, digitalisasi termasuk kecerdasan buatan dan semikonduktor, hilirisasi dan industrialisasi, kesehatan, pangan, maritim, serta material dan manufaktur maju.

Pilihan sektor itu mencerminkan upaya pemerintah mengarahkan penelitian pada kebutuhan strategis jangka panjang. Di sektor digital, misalnya, perhatian pada AI dan semikonduktor menunjukkan bahwa agenda transformasi tidak hanya berputar pada komoditas, tetapi juga pada teknologi inti yang menentukan posisi Indonesia dalam rantai nilai global. Itu menjadi sinyal penting bagi kampus, pusat riset, dan industri yang selama ini mencari kepastian arah kebijakan.

Forum ini juga menghadirkan pameran teknologi, diskusi lintas sektor, dan forum kebijakan riset industri nasional. Format itu memperlihatkan bahwa pemerintah ingin mendorong difusi teknologi ke sektor produksi dan layanan, bukan berhenti di publikasi ilmiah. Bagi sektor digital dan manufaktur, pesan tersebut jelas: riset harus diterjemahkan menjadi kapasitas industri yang dapat diukur.

Ribuan peneliti dan kampus dilibatkan dalam agenda riset nasional

Skala partisipasi dalam KSTI 2025 menunjukkan besarnya upaya konsolidasi ekosistem riset. Kemdiktisaintek mencatat kehadiran 1.066 peneliti unggul STEM dari seluruh Indonesia, 401 rektor dan wakil rektor dari PTN, PTS, dan LLDikti, 351 dosen STEM di Jawa Barat dan Jakarta, serta 54 mitra industri yang berkaitan dengan riset dan perguruan tinggi.

Selain itu, hadir pula 26 diaspora Indonesia, 150 guru besar dan senat ITB, 297 peserta dari 18 kementerian dan lembaga, 15 BUMN dan Danantara, serta mahasiswa doktoral dan peserta mahasiswa lainnya. Deretan angka ini penting karena memperlihatkan bahwa agenda nasional di bidang sains tidak lagi dibicarakan dalam lingkaran kampus semata. Pemerintah berupaya menarik lebih banyak aktor, dari birokrasi, industri, hingga komunitas ilmiah global.

Beberapa ilmuwan yang dijadwalkan hadir sebagai pembicara antara lain Konstantin Novoselov, Brian Paul Schmidt, Chennupati Jagadish, dan Lam Khin Yong, bersama para menteri strategis dan direktur BUMN. Kehadiran tokoh-tokoh tersebut memberi konteks bahwa Indonesia ingin mempertemukan perspektif internasional dengan agenda industri domestik. Dalam lanskap ekonomi digital, pola kolaborasi seperti ini makin menentukan kualitas transfer pengetahuan dan kecepatan adopsi teknologi baru.

Kemdiktisaintek juga terus mengaitkan agenda ini dengan penguatan SDM, termasuk di perguruan tinggi. Dalam konteks yang lebih luas, isu peningkatan kapasitas kampus juga muncul pada pembahasan lain terkait kebijakan kementerian, termasuk penguatan ekosistem pembinaan di pendidikan tinggi yang ikut disorot oleh penguatan program di perguruan tinggi. Benang merahnya tetap sama, yakni membangun institusi yang lebih siap menopang riset, talenta, dan daya saing Indonesia.

Dari kampus ke industri, tantangan komersialisasi jadi sorotan utama

Arah kebijakan itu ditegaskan kembali ketika Brian Yuliarto menerima audiensi Bank Indonesia Institute di Jakarta pada 5 Maret 2026. Dalam pertemuan yang dipublikasikan sehari kemudian, Menteri menyatakan bahwa integrasi antara sains, teknologi, dan kebutuhan pasar menjadi syarat penting bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Industrialisasi berbasis sains dan teknologi, menurutnya, merupakan salah satu jalan untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.

Ia juga menyoroti persoalan klasik yang kerap disebut valley of death, yaitu kesenjangan antara hasil riset kampus dan tahap komersialisasi di industri. Banyak produk penelitian dinilai belum mampu bertahan hingga tahap industrialisasi karena pertimbangan keekonomian baru masuk di akhir proses. Dengan kata lain, masalahnya bukan semata kualitas laboratorium, melainkan keterhubungan sejak awal antara riset, model bisnis, dan kebutuhan pasar.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida Budiman, menyatakan Bank Indonesia Institute memiliki peluang kolaborasi riset bersama Kemdiktisaintek, termasuk riset tren dan model hilirisasi mineral untuk mendukung rekomendasi kebijakan ekonomi. Pendekatan berbasis bukti seperti ini memperlihatkan bahwa dukungan terhadap inovasi tidak hanya datang dari kementerian teknis, tetapi juga dari lembaga yang berkaitan dengan kebijakan makro. Informasi mengenai agenda KSTI sendiri sebelumnya juga dipublikasikan melalui kanal resmi kementerian dan sejumlah pemberitaan institusional, termasuk pembahasan mengenai agenda KSTI 2025.

Bagi sektor digital dan industri berbasis riset, implikasinya cukup jelas. Pemerintah tidak hanya mendorong lebih banyak riset, tetapi juga meminta skema pendanaan yang menarik partisipasi industri agar hasil penelitian bisa dipakai dan diproduksi. Jika skema itu berjalan, penguatan sains, teknologi, dan pengembangan talenta berpeluang menjadi fondasi baru bagi ekonomi Indonesia yang lebih kompetitif.