Ethereum mencatat lonjakan tajam dalam aktivitas jaringan pada pertengahan Januari, dengan rata-rata pergerakan tujuh hari mendekati 2,5 juta transaksi, level tertinggi sepanjang masa menurut data yang dikutip The Block pada 19 Januari. Kenaikan volume ini terjadi ketika biaya gas justru berada di kisaran sangat rendah, rata-rata sekitar US$0,15 per transaksi, sementara beberapa swap di Etherscan tercatat bisa dieksekusi serendah US$0,04. Situasi ini menandai perubahan penting bagi jaringan Ethereum, yang selama bertahun-tahun identik dengan biaya mahal saat lalu lintas meningkat.
Di balik lonjakan aktivitas transaksi itu, ada perubahan teknis yang mulai terasa dampaknya. Hard fork Fusaka, yang diterapkan sekitar tujuh pekan sebelumnya, memperkenalkan PeerDAS dan membuka ritme pembaruan jaringan dua kali setahun. Pada 8 Januari, parameter blob-only fork juga mulai berlaku dengan target blob dinaikkan menjadi 14 dan batas maksimum 21, sebuah langkah yang menekan biaya data untuk rollup Layer 2. Hasilnya, beban eksekusi makin banyak dipindahkan ke jaringan lapis kedua, sementara mainnet tetap menjadi lapisan penyelesaian.

Aktivitas jaringan Ethereum mencapai rekor saat biaya gas tetap rendah
Data terbaru menunjukkan paradoks yang kini menjadi sorotan pelaku pasar kripto: aktivitas jaringan melonjak, tetapi biaya transaksi tidak ikut meledak seperti pada siklus-siklus sebelumnya. Rata-rata transaksi tujuh hari yang mendekati 2,5 juta berarti hampir dua kali lipat dibandingkan volume setahun lalu. Lonjakan ini mulai terlihat sejak pertengahan Desember, membalikkan tren perlambatan yang berlangsung hingga pertengahan 2025.
Bagi Ethereum, ini bukan sekadar statistik harian. Selama beberapa tahun, kritik terbesar terhadap blockchain ini adalah struktur ongkos yang tinggi dan tidak menentu, terutama saat permintaan ruang blok memuncak. Kini, kondisi itu berubah: meski aktivitas transaksi menanjak, biaya tetap rendah karena distribusi beban komputasi makin efisien di berbagai lapisan. Dalam konteks transaksi blockchain, perubahan ini penting karena membuka ruang bagi penggunaan bernilai kecil yang sebelumnya tidak ekonomis.
Perkembangan ini juga menjadi pembeda dibanding fase sebelumnya di ekosistem aset digital, ketika lonjakan penggunaan hampir selalu diikuti kenaikan biaya. Di jaringan lain, dinamika lalu lintas masih terus diamati, seperti terlihat dalam laporan tentang aktivitas jaringan Solana yang juga menjadi perhatian pasar. Untuk Ethereum, pesan utamanya jelas: skala yang lebih besar kini mulai dibarengi efisiensi yang lebih baik.
Pembaruan protokol dan Layer 2 mengubah struktur biaya meningkat di Ethereum
Penjelasan utama di balik meredanya tekanan biaya ada pada sisi infrastruktur. Setelah hard fork Fusaka, Ethereum memperkenalkan Peer Data Availability Sampling atau PeerDAS, teknologi yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi ketersediaan data. Beberapa pekan kemudian, penyesuaian parameter blob memperbesar kapasitas data untuk rollup, sehingga biaya publikasi data bagi solusi Layer 2 turun signifikan.
Pada saat yang sama, batas gas blok Ethereum meningkat dari 45 juta menjadi 60 juta pada akhir November. Dibanding level awal 2025, ini berarti kenaikan kapasitas hingga 100%. Kombinasi kapasitas blok yang lebih besar dan migrasi eksekusi ke Layer 2 membuat tekanan pada mainnet berkurang. Karena itu, walau headline-nya adalah biaya meningkat seiring lonjakan penggunaan, realitas teknis di lapangan justru menunjukkan bahwa lonjakan tersebut belum menerjemah menjadi ledakan ongkos dasar.
Arsitektur ini membuat rollup menangani sebagian besar pemrosesan, lalu menyelesaikan hasilnya secara berkala ke Ethereum. Model tersebut semakin menegaskan fungsi jaringan blockchain ini sebagai lapisan penyelesaian utama, bukan satu-satunya tempat eksekusi. Di saat yang sama, layanan berbasis aset digital lain juga berkembang di sekitar ekosistem, termasuk ekspansi pemain institusional seperti yang terlihat pada layanan custody Kraken. Arah industri menunjukkan bahwa efisiensi teknis dan kesiapan layanan kini berjalan beriringan.
Poin terpentingnya, Ethereum tampaknya sedang memasuki fase baru: pertumbuhan tidak lagi otomatis berarti kemacetan. Itu menjadi indikator yang selama ini ditunggu oleh pengembang, pengguna, dan institusi.
Stablecoin dan staking memperkuat posisi jaringan blockchain Ethereum
Lonjakan volume di Ethereum tidak datang dari satu sumber saja, tetapi transfer stablecoin menjadi pendorong terbesar. Sekitar 35% hingga 40% dari seluruh aktivitas di jaringan saat ini berasal dari perpindahan stablecoin. Ketika ongkos rata-rata hanya sekitar US$0,15, transaksi bernilai kecil hingga menengah menjadi jauh lebih masuk akal, terutama untuk pengguna yang memanfaatkan dolar digital sebagai sarana pembayaran atau pemindahan dana.
Tren ini sejalan dengan perhatian yang lebih luas terhadap volume transaksi stablecoin di pasar kripto global. Bagi Ethereum, dominasi kategori ini menunjukkan bahwa utilitas jaringan makin bergeser dari sekadar spekulasi aset menuju infrastruktur transfer nilai. Itu penting karena memberi dasar penggunaan yang lebih stabil dibanding lonjakan musiman dari sektor lain.
Di sisi lain, staking juga mencapai tonggak baru dengan sekitar 36 juta ETH terkunci, setara kurang lebih 30% dari suplai beredar. Angka tersebut memperlihatkan partisipasi validator yang tetap kuat. Pada saat data ini dipublikasikan, ETH diperdagangkan di kisaran US$3.200, naik 3,6% dalam tujuh hari dan 8,1% dalam 30 hari, meski masih turun 2,8% dalam 24 jam terakhir.
Gabungan antara rekor penggunaan, biaya rendah, dominasi stablecoin, dan staking yang terus naik memberi gambaran baru tentang Ethereum. Bukan lagi sekadar jaringan yang sibuk saat pasar euforia, melainkan infrastruktur digital yang semakin matang untuk menopang volume besar tanpa langsung memicu kenaikan biaya di lapisan utamanya.









