OpenSea kembali mencatat lonjakan aktivitas pada sejumlah koleksi utama setelah beberapa bulan bergerak di tengah pasar yang jauh lebih sepi dibanding masa puncak NFT. Kenaikan ini terlihat setelah platform tersebut memperoleh kejelasan regulasi di Amerika Serikat pada Februari 2025 dan memperkenalkan token SEA, dua faktor yang mendorong volume perdagangan harian serta pangsa pasarnya di ekosistem Ethereum. Di saat yang sama, arah bisnis OpenSea juga berubah: dari pasar yang identik dengan koleksi seni digital menjadi pusat jual beli digital lintas aset dan lintas blokchain.
Pergeseran itu penting karena datang ketika industri token tidak dapat dipertukarkan masih berusaha keluar dari penurunan panjang sejak ledakan 2021 hingga 2022. Data yang dikutip dari DappRadar menunjukkan jumlah pedagang bulanan di OpenSea sempat turun hampir 84% menjadi sekitar 8.400, sementara total penjualan turun lebih dari 40% menjadi sekitar 24.100 transaksi dalam periode yang disebutkan. Namun, setelah pengumuman SEA pada 13 Februari 2025 dan penutupan investigasi SEC pada 21 Februari 2025, aktivitas kembali meningkat tajam, menandai fase baru bagi platform yang pernah menjadi simbol utama pasar digital berbasis koleksi kripto.
OpenSea kembali menguat setelah tekanan panjang di pasar NFT
Nama OpenSea sempat identik dengan euforia transaksi NFT. Pada 2021 dan 2022, platform ini menjadi etalase utama untuk aset digital dari koleksi seperti Bored Ape Yacht Club dan CryptoPunks, ketika karya visual berbasis blockchain diperdagangkan dalam nilai jutaan dolar. Pada periode itu, OpenSea dilaporkan mencatat pendapatan bulanan mendekati 150 juta dolar AS, sebuah angka yang menggambarkan besarnya arus spekulasi di sektor ini.
Situasinya berubah drastis ketika minat pasar memudar. Volume perdagangan NFT secara luas turun sekitar 90% hingga 95% dari masa puncak, dan banyak aset kehilangan likuiditas. OpenSea tetap bertahan sebagai pemain besar, tetapi basis pengguna ritelnya menyusut tajam. Aktivitas di platform makin ditopang oleh pedagang berpengalaman dan kolektor yang sesekali melakukan pembelian bernilai tinggi, bukan lagi oleh gelombang pengguna baru seperti pada masa ledakan pasar.
Perubahan itu juga sejalan dengan dinamika industri kripto yang lebih luas. Saat modal spekulatif mengalir ke aset lain seperti memecoin, perhatian terhadap NFT ikut terpecah. Gambaran yang lebih besar bisa dilihat dari perkembangan volume pasar kripto global yang turut memengaruhi selera risiko investor. Bagi OpenSea, tekanan tersebut menjadi titik yang memaksa perusahaan meninjau ulang model bisnis lamanya.

Investigasi SEC berakhir dan token SEA memicu lonjakan volume
Titik balik paling jelas datang pada Februari 2025. Pada 21 Februari, pendiri dan CEO OpenSea, Devin Finzer, mengumumkan bahwa Komisi Sekuritas dan Bursa AS atau SEC telah menutup investigasinya terhadap perusahaan tersebut. Penyelidikan yang dimulai pada Agustus 2024 itu berfokus pada dugaan bahwa OpenSea beroperasi sebagai pasar sekuritas tanpa registrasi. Penutupan kasus ini dipandang luas sebagai perkembangan penting bagi sektor NFT karena mengurangi ketidakpastian hukum yang selama ini membayangi platform perdagangan aset digital.
Beberapa hari sebelumnya, tepatnya 13 Februari 2025, OpenSea telah lebih dulu mengumumkan token SEA. Kombinasi dua peristiwa itu segera tercermin pada data perdagangan. Volume harian rata-rata OpenSea naik menjadi sekitar 17,4 juta dolar AS, melonjak tajam dari rata-rata 3,47 juta dolar AS pada lima hari sebelum pengumuman token. Jumlah transaksi harian juga tercatat lebih dari dua kali lipat, menandakan kembalinya minat pengguna terhadap platform tersebut.
Dampak paling nyata terlihat pada pangsa pasar Ethereum. Dalam empat minggu, dominasi OpenSea naik dari sekitar 25,5% menjadi 71,5%, terutama dengan merebut kembali aktivitas yang sebelumnya tersebar ke platform pesaing seperti Blur. Di tengah pembahasan soal arah pemulihan sektor, tren ini ikut memperkuat sorotan terhadap pemulihan penjualan di pasar NFT. Bagi industri, pesan yang muncul cukup jelas: kejelasan regulasi dan insentif ekonomi masih sangat menentukan arus pengguna.
Respons dari pelaku industri pun cenderung positif. Chris Akhavan, Chief Business Officer Magic Eden, menyebut keputusan SEC sebagai kabar baik untuk keseluruhan ekosistem NFT. Pernyataan itu menunjukkan bahwa bahkan di antara para pesaing, kepastian aturan tetap dianggap sebagai fondasi penting untuk mendorong pertumbuhan yang lebih sehat.
Strategi baru OpenSea mengarah ke perdagangan multi rantai
Kenaikan aktivitas pada sejumlah koleksi besar bukan satu-satunya cerita. Dalam beberapa tahun terakhir, OpenSea juga menata ulang identitasnya. Platform ini tak lagi hanya diposisikan sebagai tempat memperdagangkan gambar profil dan koleksi seni digital, melainkan sebagai agregator perdagangan multi-rantai yang menghubungkan 22 blockchain dan mendukung aset yang lebih luas, mulai dari NFT hingga token DeFi dan memecoin.
Perubahan arsitektur menjadi bagian penting dari strategi itu. OpenSea kini mengedepankan model non-kustodian, yang berarti pengguna memegang kontrol langsung atas aset mereka. Perusahaan juga menyatakan pemeriksaan kepatuhan ditangani melalui TRM Labs untuk memantau alamat yang dikenai sanksi atau dinilai berisiko. Di saat pasar kripto bergerak ke arah produk yang lebih likuid, langkah ini memperlihatkan upaya OpenSea untuk masuk lebih dalam ke infrastruktur perdagangan on-chain, bukan sekadar bertahan di ceruk lama.
Rencana berikutnya juga mengarah ke perluasan fungsi. OpenSea menyiapkan aplikasi seluler baru dengan antarmuka yang disebut lebih sederhana, serta dukungan untuk perpetual futures. Jika seluruh agenda ini berjalan, maka OpenSea akan makin dekat dengan model hibrida antara marketplace NFT dan bursa kripto penuh. Dalam konteks persaingan yang lebih luas, pergeseran ini sejalan dengan perhatian pasar pada aset yang bergerak cepat, termasuk perkembangan aktivitas jaringan Solana dan rotasi modal ke sektor lain.
Pada akhirnya, lonjakan terbaru pada koleksi-koleksi unggulan menunjukkan bahwa OpenSea masih memiliki daya tarik di tengah pasar yang berubah. Tetapi yang lebih menentukan bukan hanya kebangkitan sesaat pada transaksi NFT, melainkan apakah transformasi menjadi pusat jual beli digital lintas blokchain mampu menjaga relevansinya ketika siklus kripto berikutnya terbentuk.









