IMF memperkirakan Bank Sentral Eropa akan terus menaikkan suku bunga pada 2026

imf memperkirakan bank sentral eropa akan terus menaikkan suku bunga pada tahun 2026 untuk mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi.

IMF menilai jalur kebijakan moneter di kawasan euro masih akan ditentukan oleh tekanan inflasi dan ketidakpastian perdagangan, sehingga Bank Sentral Eropa diperkirakan mempertahankan sikap ketat dan berpeluang terus menaikkan atau setidaknya menahan suku bunga pada level tinggi sepanjang 2026. Proyeksi itu muncul setelah ECB memangkas suku bunga deposito menjadi 2,5 persen pada 6 Maret 2025, sambil memperingatkan bahwa lonjakan harga energi, perlambatan ekspor, dan tensi dagang global masih membebani ekonomi zona euro. Di Frankfurt, Presiden ECB Christine Lagarde menegaskan setiap keputusan berikutnya akan bergantung pada data, di tengah pasar yang mencoba menakar sampai kapan pelonggaran dapat berlanjut.

Pembacaan pasar terhadap sinyal tersebut tidak sederhana. Di satu sisi, pertumbuhan melemah dan pembiayaan usaha menjadi sorotan. Di sisi lain, laju harga belum sepenuhnya kembali ke sasaran, sementara volatilitas obligasi pemerintah Eropa menunjukkan betapa sensitifnya sektor keuangan terhadap perubahan arah bank sentral. Situasi ini menempatkan ECB pada posisi yang mirip dengan banyak otoritas global lain: menopang aktivitas tanpa membuka ruang bagi gelombang inflasi baru.

IMF melihat arah suku bunga Bank Sentral Eropa tetap ketat

Acuan utama dalam perdebatan ini adalah keputusan ECB pada Maret 2025 yang memangkas tiga suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin. Suku bunga deposito turun menjadi 2,5 persen, suku bunga refinancing utama menjadi 2,65 persen, dan fasilitas pinjaman marjinal menjadi 2,90 persen. Namun yang paling diperhatikan pelaku pasar bukan hanya besar penurunannya, melainkan perubahan bahasa resmi ECB yang menyiratkan bahwa stance kebijakan kini memang kurang restriktif, tetapi ruang pelonggaran berikutnya semakin terbatas.

Dalam penilaian yang sejalan dengan peringatan IMF soal risiko ekspektasi harga, bank sentral dapat kembali bersikap lebih keras bila tekanan inflasi tidak mereda sesuai target. Pernyataan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva sebelumnya juga menekankan bahwa bank sentral perlu menaikkan suku bunga bila ekspektasi inflasi terancam lepas kendali. Bagi investor, sinyal seperti ini penting karena menentukan biaya kredit, valuasi aset, hingga strategi lindung nilai di Eropa.

imf memproyeksikan bank sentral eropa akan melanjutkan kenaikan suku bunga sepanjang tahun 2026 untuk mengendalikan inflasi dan mendukung stabilitas ekonomi.

Respons pasar saat keputusan Maret diumumkan menunjukkan sensitivitas tersebut. Euro sempat menguat sekitar 0,34 persen terhadap dolar AS, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun naik lebih dari sembilan basis poin. Pergerakan itu menandakan bahwa meski ada pemangkasan, investor tetap membaca peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Di lingkungan digital dan pasar global, dinamika semacam ini juga memengaruhi sentimen pada aset berisiko, termasuk instrumen yang beberapa waktu terakhir banyak dipantau seperti ETF Bitcoin spot.

Inflasi, tarif dagang, dan pertumbuhan ekonomi menjadi penentu kebijakan

Latar belakang proyeksi ini berakar pada kombinasi faktor domestik dan eksternal. ECB telah menurunkan perkiraan pertumbuhan kawasan euro menjadi 0,9 persen untuk 2025 dan 1,2 persen untuk 2026. Revisi ini didorong oleh lemahnya ekspor dan investasi, terutama akibat ketidakpastian perdagangan global. Ancaman tarif impor dari Amerika Serikat terhadap barang-barang Uni Eropa menjadi salah satu sumber tekanan yang paling banyak diperhatikan pasar.

Di saat yang sama, inflasi belum sepenuhnya jinak. ECB memperkirakan inflasi 2025 mencapai 2,3 persen, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya 2,1 persen, terutama karena kenaikan harga energi. Memang, inflasi jasa mulai melandai menjadi 3,7 persen pada Februari setelah bertahan di 3,9 persen selama berbulan-bulan. Namun bagi otoritas moneter, perlambatan itu belum cukup untuk menyatakan risiko harga telah sepenuhnya berlalu.

Pertanyaan utamanya kemudian sederhana: apakah bank sentral harus lebih fokus menyelamatkan pertumbuhan, atau menjaga kredibilitas anti-inflasi? Untuk saat ini, ECB mencoba menyeimbangkan keduanya. Di sisi perdagangan, pelemahan permintaan eksternal menjadi tantangan nyata, serupa dengan perhatian pada daya tahan arus ekspor di negara lain, termasuk pembacaan terhadap kinerja ekspor Indonesia ketika pasar global sedang bergejolak. Bagi zona euro, kombinasi pertumbuhan yang lemah dan inflasi yang masih di atas target membuat setiap keputusan suku bunga menjadi jauh lebih sensitif.

Ketegangan ini juga diperbesar oleh faktor fiskal. Rencana peningkatan belanja pertahanan di Jerman dan langkah Komisi Eropa untuk mendorong industri pertahanan, termasuk skema hingga hampir 800 miliar euro dengan 150 miliar euro dalam bentuk pinjaman, membuka kemungkinan dorongan permintaan baru. Bagi pasar obligasi, belanja yang lebih besar berarti kebutuhan pembiayaan yang meningkat, dan itu dapat memperumit kerja bank sentral dalam menstabilkan harga.

Dampak bagi pasar keuangan dan sektor digital Eropa

Prospek suku bunga tinggi lebih lama biasanya langsung terasa pada biaya pinjaman korporasi, valuasi perusahaan teknologi, dan minat investasi pada bisnis digital. Startup, platform e-commerce, hingga perusahaan perangkat lunak di Eropa sangat sensitif terhadap ongkos modal. Saat imbal hasil obligasi naik, investor cenderung lebih selektif dalam menempatkan dana ke sektor bertumbuh tinggi yang belum sepenuhnya mencetak laba.

Di tingkat yang lebih luas, ini memengaruhi ekosistem digital dan periklanan online. Ketika pembiayaan menjadi mahal, belanja pemasaran kerap menjadi salah satu pos yang dievaluasi ulang. Dinamika itu beririsan dengan perkembangan industri iklan digital global, termasuk tren pendapatan iklan pencarian di AS yang sering dipakai sebagai indikator kesehatan belanja digital. Jika aktivitas ekonomi Eropa melemah lebih lama, dampaknya bisa menjalar ke platform, agensi, dan perusahaan teknologi pemasaran.

Meski demikian, pasar belum melihat jalur yang sepenuhnya satu arah. Sejumlah analis sebelumnya memperkirakan ECB masih mungkin melonggarkan pada beberapa pertemuan lanjutan setelah Maret 2025, tetapi bahasa kebijakan yang lebih hati-hati menunjukkan bank sentral ingin menjaga fleksibilitas. Itulah sebabnya pembacaan IMF tentang kemungkinan ECB terus menaikkan atau setidaknya menahan suku bunga di level tinggi pada 2026 menjadi relevan: fokusnya bukan hanya pada satu keputusan, melainkan pada durasi kebijakan ketat itu sendiri.

Pada akhirnya, arah kebijakan ECB akan ditentukan oleh tiga variabel yang saling terkait: perkembangan inflasi inti, dampak tensi dagang terhadap pertumbuhan, dan respons pasar obligasi terhadap kebutuhan pembiayaan pemerintah. Selama ketiganya belum benar-benar stabil, ruang bagi pelonggaran agresif tetap sempit, dan sektor keuangan Eropa harus bersiap menghadapi fase moneter yang masih ketat.